Update Harga Pangan: Bawang Merah Rp 43.800/Kg, Telur Ayam Rp 29.300/Kg

Simak update harga sembako nasional terbaru menurut PIHPS Bank Indonesia. Mulai dari beras, aneka cabai, daging, hingga minyak goreng eceran.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 19 Juli 2026, 09:28 WIB
Harga pangan hari ini bervariasi dan bergerak fluktuatif. Terlihat pedagang menjajakan jualannya seperti cabai, bawang dan lainnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional merilis harga komoditas pokok di pasar domestik. Berdasarkan pemantauan hari ini, Minggu (19/7/2026), fluktuasi harga komoditas pokok di tingkat pedagang eceran menunjukkan tren yang bervariasi.

Dalam laporan tersebut, komoditas telur ayam ras kini berada di angka Rp 29.300 per kilogram (kg), sementara untuk bawang merah dipatok seharga Rp 43.800 per kg. Tak jauh berbeda dari jenis bawang merah, persediaan bawang putih secara nasional juga dibanderol pada kisaran Rp 43.750 per kg.

Sektor Beras dan Cabai

Bagi pergerakan rumpun bahan pangan pokok atau beras, PIHPS mengelompokkannya berdasarkan tingkat kualitas sebagai berikut:

Beras Kualitas Bawah I: Rp 14.750 per kg

Beras Kualitas Bawah II: Rp 14.550 per kg

Beras Kualitas Medium I: Rp 16.350 per kg

Beras Kualitas Medium II: Rp 16.150 per kg

Beras Kualitas Super I: Rp 17.650 per kg

Beras Kualitas Super II: Rp 17.150 per kg

Komoditas Bumbu Dapur

Terlihat pedagang menjajakan jualannya . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Beralih ke komoditas pelengkap bumbu dapur, kelompok cabai masih menunjukkan nilai jual yang cukup tinggi. Tercatat, cabai merah besar dipasarkan dengan harga Rp 47.450 per kg dan jenis cabai merah keriting menyentuh Rp 46.500 per kg. Bagi pencinta rasa pedas, harga cabai rawit hijau dipatok Rp 53.000 per kg, disusul oleh cabai rawit merah yang menempati posisi tertinggi sebesar Rp 57.250 per kg.

Daging, Gula, dan Minyak Goreng Untuk pemenuhan protein, masyarakat dapat menebus daging ayam ras segar dengan biaya Rp 38.450 per kg. Sementara itu, untuk komoditas daging sapi kualitas I dihargai Rp 150.600 per kg, dan daging sapi kualitas II berada pada level Rp 141.550 per kg.

Komoditas pemanis seperti gula pasir juga ikut terpantau. Jenis gula pasir premium saat ini senilai Rp 20.300 per kg, sedangkan untuk pasokan gula pasir lokal dijual seharga Rp 19.100 per kg.

Terakhir, pada sektor minyak goreng, varian curah rata-rata dipatok Rp 20.550 per liter. Bagi konsumen yang memilih minyak goreng kemasan bermerek I harus merogoh kocek sebesar Rp 24.200 per liter, sedangkan untuk kemasan bermerek II tersedia di harga Rp 23.450 per liter.

Inflasi Juni 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi Indonesia Juni 2026 akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Optimisme tersebut didasarkan pada kenaikan harga yang saat ini lebih banyak dipicu oleh komoditas yang bersifat fluktuatif, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah bahan pangan, bukan karena lonjakan permintaan masyarakat.

Menurut Purbaya, harga komoditas yang bersifat musiman pada akhirnya akan kembali normal. Apalagi, harga minyak dunia saat ini mulai mengalami penurunan yang diperkirakan akan diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia juga menegaskan, kondisi inflasi saat ini belum mencerminkan adanya permintaan masyarakat yang terlalu tinggi. Hal itu terlihat dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada pada level relatif stabil.

"Basically gitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya. 

Kenaikan Harga Sementara

Purbaya menilai stabilnya inflasi inti menjadi sinyal bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara dan tidak berasal dari sisi permintaan.

"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," kata Purbaya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama kelompok tersebut dengan andil 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya