Ikut Dirikan WAICO, Indonesia Bidik Akses Pertama Teknologi AI

Jadi pendiri organisasi AI dunia (WAICO), Indonesia amankan hak akses utama tata kelola teknologi siber sekaligus dongkrak proyeksi ekonomi digital nasional.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 17 Juli 2026, 22:25 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat (17/7/2026) malam. (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan sejumlah manfaat strategis setelah Indonesia resmi bergabung sebagai negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Langkah diplomasi teknologi ini memastikan Indonesia tidak akan tertinggal dalam peta persaingan kecerdasan buatan dunia.

Airlangga menegaskan, posisi sebagai founding member menempatkan Indonesia di garis depan dalam merumuskan arah kebijakan teknologi masa depan.

"Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam pengembangan AI. Kita bisa langsung terlibat karena AI merupakan salah satu game changer di masa depan, dan saat ini belum ada satu negara pun yang mendominasi mutlak di depan. Melalui wadah ini, kita bisa maju bersama-sama dengan berbagai negara lain," ungkap Airlangga dalam konferensi pers virtual, Jumat (17/7/2026).

Airlangga menambahkan, keikutsertaan Indonesia merupakan mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mengambil peran aktif dalam pengelolaan tata kelola kecerdasan buatan.

"Indonesia sangat peduli terhadap perkembangan AI yang sifatnya inklusif, aman, beretika, dan tidak dimonopoli oleh kekuatan atau korporasi tertentu," jelasnya.

 

Mengerek Nilai Ekonomi Digital hingga US$ 2 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat (17/7/2026) malam. (Liputan6.com/Arief)

Bergabungnya Indonesia di kancah global ini diproyeksikan mampu mengerek pertumbuhan ekosistem digital di dalam negeri secara masif. Berdasarkan kalkulasi data, pemanfaatan kecerdasan buatan secara optimal diperkirakan mampu menyumbang nilai ekonomi hingga US$ 400 miliar pada tahun 2030.

Bahkan, jika diintegrasikan dengan implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dan perluasan adopsi QRIS lintas batas (cross-border), potensinya melonjak tajam.

"Dengan diimplementasikannya Digital Economy Framework, nilai ekonomi digital kita diproyeksikan meningkat hingga US$ 2 triliun," urai Airlangga.

Airlangga menekankan keuntungan politis dan teknis sebagai inisiator organisasi. "Dengan status sebagai founder, kita tentu mempunyai hak akses pertama (first access) terhadap seluruh lini pembicaraan mengenai riset dan perkembangan komparatif dari AI itu sendiri," sambungnya.

 

Penyusunan Perpres Etika AI Masuki Tahap Akhir

Senada dengan Menko Perekonomian, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Angga Raka Prabowo, menjelaskan bahwa posisi strategis ini menjadi pembuktian ketegasan diplomasi digital Indonesia di tingkat internasional.

"Indonesia bukan hanya bertindak sebagai penonton. Kita berperan aktif di sini untuk mengambil sisi positifnya, terutama bagaimana kita bisa mewarnai tata kelola dan penyusunan regulasi AI secara global," tegas Angga.

Ia menerangkan, keputusan bergabung dengan WAICO sangat sinkron dengan agenda domestik pemerintah yang tengah merampungkan dua regulasi krusial penunjang ekosistem digital nasional.

"Langkah ini sejalan dengan penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Peta Jalan AI 2026-2029 yang akan segera terbit dalam waktu dekat. Selain itu, Peraturan Presiden mengenai Etika Artificial Intelligence itu sendiri saat ini sudah memasuki pembahasan tahap akhir," pungkas Angga Raka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya