Liputan6.com, Islamabad - Rumor mengenai rencana Pakistan mengakuisisi sekitar 40 jet tempur siluman J-35 buatan China kembali mencuat. Meski isu tersebut telah beredar sejak 2024, hingga kini belum ada kontrak resmi yang ditandatangani maupun pengiriman pesawat.
Jika terealisasi, pembelian J-35 akan menjadi lompatan besar bagi Angkatan Udara Pakistan sekaligus mengubah keseimbangan kekuatan militer di Asia Selatan. Namun, sejumlah faktor membuat Beijing diperkirakan belum akan menyetujui penjualan tersebut dalam waktu dekat.
Advertisement
Selama bertahun-tahun, China menjadi pemasok utama persenjataan Pakistan dan mendukung penguatan kemampuan militernya sebagai penyeimbang India, dikutip dari laman The Diplomat, Jumat (16/7/2026).
Meski demikian, Beijing dinilai berhati-hati agar bantuan militernya tidak memberikan keunggulan yang terlalu besar bagi Islamabad. Kekhawatiran itu berkaitan dengan potensi meningkatnya ketegangan di Kashmir, wilayah sengketa yang selama puluhan tahun menjadi sumber konflik antara India dan Pakistan.
Dalam konflik kedua negara pada 2025, Pakistan mengandalkan jet tempur J-10C buatan China, sedangkan India mengoperasikan Rafale buatan Prancis dan Sukhoi Su-30MKI asal Rusia.
Pakistan mengklaim berhasil menembak jatuh lima pesawat tempur India tanpa kehilangan satu pun pesawatnya. Kehadiran J-35, yang merupakan jet tempur generasi kelima, diperkirakan akan semakin meningkatkan keunggulan udara Pakistan karena India hingga kini belum memiliki pesawat tempur generasi kelima dalam operasionalnya.
Kondisi itu dinilai berpotensi mengubah keseimbangan militer di kawasan dan meningkatkan risiko eskalasi antara dua negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir.
Produksi J-35 Masih Diprioritaskan untuk Militer China
Selain faktor geopolitik, kebutuhan dalam negeri juga menjadi alasan utama.
J-35 merupakan satu-satunya jet tempur generasi kelima China yang dirancang untuk beroperasi dari kapal induk. Pesawat ini masih diproduksi untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), seiring ekspansi armada kapal induk China.
Produksi J-35 dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan militer domestik. Menjual puluhan unit kepada Pakistan dikhawatirkan justru memperlambat modernisasi kekuatan laut China, terutama di tengah persaingan strategis dengan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.
Risiko Kebocoran Teknologi
Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah keamanan teknologi.
Pakistan masih mengoperasikan sekitar 75 jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat yang membutuhkan perawatan berkala oleh teknisi AS. Jika J-35 ditempatkan di pangkalan yang sama, China dikhawatirkan menghadapi risiko kebocoran teknologi sensitif kepada pihak asing.
Meski varian ekspor J-35 diperkirakan memiliki spesifikasi yang lebih rendah dibanding versi yang digunakan militer China, sejumlah teknologi inti tetap dianggap sangat sensitif.
Beijing diperkirakan enggan mengambil risiko tersebut mengingat J-35 merupakan salah satu aset paling modern dalam industri pertahanan China.
Kondisi Ekonomi Pakistan Jadi Hambatan
Hambatan lain datang dari kondisi keuangan Pakistan.
Ekonomi negara itu masih berada di bawah tekanan akibat tingginya utang, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan. Sebagian besar penerimaan pajak Pakistan juga masih digunakan untuk membayar kewajiban utang, sehingga ruang fiskal untuk belanja pertahanan menjadi terbatas.
Dalam kondisi tersebut, pembelian 40 unit J-35 diperkirakan akan membebani anggaran pertahanan Pakistan, bahkan untuk biaya operasional dan pemeliharaannya.
Secara teori, China dapat memberikan pembiayaan melalui skema pinjaman seperti yang pernah dilakukan saat menjual J-10. Namun, analis menilai Beijing saat ini belum memiliki insentif strategis maupun ekonomi untuk melakukan langkah tersebut.
Penjualan Masih Mungkin Terjadi
Meski peluang penjualan dalam waktu dekat dinilai kecil, kemungkinan tersebut belum sepenuhnya tertutup.
Laporan menyebut pilot Pakistan telah mulai menjalani pelatihan untuk mengoperasikan J-35. Hal itu dinilai sebagai indikasi bahwa persiapan tetap berlangsung jika suatu saat Beijing memutuskan memberikan lampu hijau.
Sejumlah analis menilai China kemungkinan akan mempertimbangkan penjualan J-35 apabila India lebih dulu memperoleh jet tempur generasi kelima atau jika Pakistan menghadapi situasi konflik yang mengancam keseimbangan kekuatan di kawasan. Dalam kondisi tersebut, Beijing diperkirakan dapat menawarkan J-35 dengan harga khusus atau melalui skema pembiayaan guna mempertahankan pengaruh strategisnya di Asia Selatan.