Selat Hormuz Memanas, Siap-siap Krisis Ekonomi Global

Konflik Selat Hormuz pangkas lalu lintas kapal komersial. IEA peringatkan ancaman krisis ekonomi global, terutama bagi negara berkembang yang butuh energi.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 17 Juli 2026, 19:00 WIB
Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa ekonomi global akan kembali menghadapi tekanan hebat jika konflik yang melumpuhkan Selat Hormuz tidak diselesaikan dalam hitungan minggu. Ketegangan geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok minyak, gas (LNG), hingga pupuk ini diprediksi akan menyeret negara-negara berkembang ke jurang krisis energi dan ekonomi yang mendalam.

Menurut Birol, pasar global saat ini sedang berada dalam kondisi tidak tenang dan menghadapi ketidakpastian masif. Situasi ini dipicu oleh serangan dari kedua belah pihak yang mengancam keamanan pengiriman komoditas vital seperti minyak bumi, pupuk, gas alam cair (LNG), hingga kargo komersial lainnya melalui jalur laut utama tersebut.

"Jika Selat Hormuz tetap ditutup, ekonomi global akan menghadapi krisis hebat, termasuk di wilayah negara berkembang dan Asia," ujar Birol dalam sebuah wawancara di sela-sela Forum Keamanan Aspen di Colorado, AS, dikutip dari The Straits Times, Jumat (17/7/2026).

Lalu lintas kapal di selat tersebut telah berkurang secara signifikan selama seminggu terakhir. Penurunan ini terjadi setelah sejumlah kapal komersial diserang, ditambah dengan langkah Amerika Serikat yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran.Dampak Serangan Tanker dan Lonjakan Harga LNG

Akibat serangan terhadap kapal-kapal tanker raksasa, pemuatan minyak mentah dari Arab Saudi di wilayah Teluk Persia dilaporkan anjlok drastis. Organisasi Maritim Internasional (IMO) bahkan menyatakan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz saat ini masih terlalu berbahaya untuk dilewati oleh kapal komersial biasa.

Birol menegaskan bahwa selat strategis tersebut harus segera dibuka kembali. "Selat tersebut harus dibuka tanpa syarat, bukan dalam hitungan bulan, melainkan beberapa minggu saja," pintanya tegas.

 

Pakistan Beli Pasokan Gas Termahal

Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Krisis ini langsung memicu lonjakan harga LNG di Asia sepanjang Juli 2026, terutama setelah aksi saling serang antara AS dan Iran kembali memanas di Timur Tengah. Arus perdagangan gas alam melalui Selat Hormuz menyusut tajam sejak kapal tanker milik Qatar diserang pekan lalu, memaksa negara-negara importir untuk pontang-panting mencari pasokan pengganti.Negara Berkembang Paling Terpukul

Birol menambahkan bahwa dampak ekonomi dari krisis energi ini akan jauh lebih menyakitkan bagi negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Pakistan, dan India, jika dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan yang memiliki ketahanan energi lebih kuat.

Sebagai contoh nyata, Pakistan terpaksa membeli kargo LNG dari pasar spot dengan harga termahalnya dalam empat tahun terakhir. Langkah darurat ini diambil setelah pasokan reguler dari pemasok utama mereka, Qatar, terganggu akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz.

Perusahaan LNG milik pemerintah Pakistan membeli satu kargo darurat untuk pengiriman tanggal 21–22 Juli dengan harga sekitar US$ 20,70 atau sekitar Rp 371.130 (asumsi kurs Rp 17.929 per dolar AS) per juta British Thermal Units (BTU). Proses tender pembelian tersebut telah ditutup pada Rabu (15/7/2026).

Pembelian ini menjadi transaksi LNG termahal yang pernah dilakukan oleh negara Asia Selatan tersebut sejak tahun 2022. Langkah gencar berbiaya tinggi ini terpaksa ditempuh oleh Islamabad demi menghindari pemadaman listrik massal dan krisis energi yang lebih parah di dalam negeri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya