Liputan6.com, Jakarta - Visa telah mengenalkan platform baru yang memungkinkan bank, perusahaan teknologi finansial (fintech) dan penyedia pembayaran untuk menerbitkan, menyimpan, mentransfer stablecoin melalui jaringan pembayaran.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Jumat, (17/7/2026), dalam sebuah unggahan blog pada Kamis pekan ini, Visa menyebutkan, Visa Stablecoin Platform (VSP) menggabungkan pencetakan stablecoin, penukaran, infrastruktur dompet, dan manajemen perbendaharaan ke dalam satu sistem perusahaan.
Advertisement
Alih-alih mengharuskan lembaga keuangan untuk membangun infrastruktur blockchain mereka sendiri, platform ini mengintegrasikan operasi stablecoin ke dalam alur kerja pembayaran dan penyelesaian yang ada.
"Stablecoin membuka lapisan baru uang yang dapat diprogram, tetapi bagi sebagian besar lembaga, bagian tersulit bukanlah konsepnya, melainkan realitas operasionalnya," kata Visa Chief Product and Strategy Office, Jack Forestell, dalam sebuah pernyataan.
“Dengan Visa Stablecoin Platform, kami memberi klien kami satu tempat untuk mencetak, memindahkan, dan mengelola operasi stablecoin dengan kontrol, keamanan, dan jangkauan jaringan yang sudah mereka harapkan dari Visa,”
Seperti namanya, stablecoin adalah mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai tetap, paling umum dengan dipatok ke dolar AS. Stablecoin telah berkembang menjadi pasar senilai sekitar US$ 304 miliar atau Rp 5.469 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.990), menurut CoinGecko.
Fortune menyebutkan, saat diluncurkan, Platform Stablecoin Visa mendukung Open USD (OUSD), stablecoin yang diperkenalkan oleh konsorsium Open Standard pada Juni, bersamaan dengan dukungan Visa yang sudah ada untuk USDC Circle dan USDG Paxos.
Visa Lirik Stablecoin
Platform ini, yang awalnya tersedia untuk pengguna beta terpilih, juga memungkinkan institusi untuk mengelola dompet, mentransfer dana, dan mengintegrasikan dompet tersebut dengan sistem perbendaharaan dan penyelesaian yang ada, serta mencakup kontrol persetujuan transaksi dan log audit. Berita ini menyusul beberapa langkah yang dilakukan Visa di pasar stablecoin.
Pada Oktober, raksasa pembayaran ini menerbitkan riset yang menyatakan, stablecoin dapat membawa sebagian dari pasar kredit global senilai US$ 40 triliun ke jalur blockchain, dengan mengutip lebih dari US$ 670 miliar atau Rp 12.054 triliun pinjaman stablecoin selama lima tahun sebelumnya.
Pada Maret, Visa menjadi perusahaan pembayaran besar pertama yang bergabung dengan Jaringan Canton sebagai Super Validator, peran yang dimaksudkan untuk membantu bank menggunakan stablecoin untuk pembayaran, penyelesaian, dan operasi perbendaharaan pada jaringan blockchain yang berfokus pada privasi.
Pada April, Visa memperluas program penyelesaian stablecoin-nya dengan menambahkan Base, Polygon, Canton, Arc, dan Tempo, sehingga jumlah total jaringan blockchain yang didukung menjadi sembilan. Pada saat itu, perusahaan tersebut mengatakan volume penyelesaian stablecoin tahunannya telah mencapai US$ 7 miliar atau Rp 125,94 triliun dan mendukung lebih dari 130 program kartu yang terhubung dengan stablecoin di lebih dari 50 negara.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.