Pertumbuhan Ekonomi China Lambat, Jadi yang Terlemah Sejak Pandemi

Apa penyebab pertumbuhan ekonomi China alami perlambatan?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 14 Juli 2026, 11:21 WIB
Ilustrasi yuan (Photo by Eric Prouzet on Unsplash)

Liputan6.com, Beijing - Ekonomi China tumbuh 4,3% secara tahunan pada kuartal II 2026, lebih rendah dari perkiraan analis maupun target pemerintah yang berada di kisaran 4,5% hingga 5%.

Data yang dirilis Biro Statistik Nasional China itu menjadi salah satu laju pertumbuhan ekonomi kuartalan terendah sejak Beijing mulai menerbitkan data produk domestik bruto (PDB) per kuartal pada awal 1990-an.

Sebelumnya, pertumbuhan yang lebih rendah hanya terjadi pada kuartal IV 2022, ketika China masih menerapkan pembatasan ketat selama pandemi Covid-19, dikutip dari The Guardian.

Melemahnya pertumbuhan ekonomi terjadi di tengah kontras antara kuatnya kinerja ekspor dan lemahnya permintaan domestik. Data bea cukai China menunjukkan ekspor pada Juni melonjak 27%, didorong peningkatan pengiriman barang ke luar negeri.

Namun, di sisi lain, penjualan kendaraan di pasar domestik justru merosot lebih dari 16%, meski ekspor mobil China untuk pertama kalinya menembus 1 juta unit dalam sebulan. Penjualan ritel di luar sektor otomotif hanya naik sekitar 3%, menandakan konsumsi rumah tangga masih belum pulih sepenuhnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian China masih sangat bergantung pada ekspor di tengah lemahnya konsumsi dan investasi dalam negeri.

Sejumlah ekonom kini menantikan sinyal stimulus baru dari pemerintah dalam pertemuan pejabat tinggi Partai Komunis China yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini. Menurut mereka, langkah-langkah yang lebih agresif diperlukan untuk mendorong belanja masyarakat dan mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap ekspor yang menyumbang sekitar 20% dari PDB China.

Ekonom sekaligus penasihat pemerintah China, Li Daokui, menilai pemerintah daerah kini tidak lagi menjadi motor pertumbuhan ekonomi, melainkan justru menjadi penghambat.

Profesor ekonomi Universitas Tsinghua itu mengatakan investasi aset tetap, termasuk pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur yang selama ini menjadi andalan pemerintah daerah, turun lebih dari 4% sepanjang Januari hingga Mei.

 

Sektor Properti di China

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Menurut Li, sektor properti dan konstruksi yang sebelumnya menjadi penggerak utama ekonomi juga masih berada dalam tekanan. Ia menyebut kontraksi investasi aset tetap saat ini hanya pernah terjadi dua kali sejak berdirinya Republik Rakyat China, yakni pada 1961 dan 1967.

"Besarnya kontraksi kumulatif ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Li seperti dikutip media China. Ia memperingatkan bahwa penurunan investasi dan tingginya pengangguran harus segera diatasi agar target ekonomi pemerintah tidak semakin sulit dicapai.

Di sisi eksternal, Beijing juga masih menghadapi ketidakpastian akibat hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Meski ketegangan perdagangan kedua negara saat ini mereda, China khawatir tarif impor AS dapat kembali diberlakukan setelah masa gencatan berakhir pada November, yang berpotensi menekan kinerja ekspor dan sektor manufaktur.

Selain itu, perlambatan ekonomi global yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS-Israel dengan Iran, dinilai berisiko mengurangi permintaan terhadap produk-produk China di pasar internasional.

Secara keseluruhan, ekonomi China tumbuh 4,7% pada semester pertama 2026, masih berada dalam kisaran target pemerintah. Capaian tersebut diperkirakan dapat mengurangi tekanan bagi Beijing untuk meluncurkan stimulus ekonomi berskala besar dalam waktu dekat.    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya