Liputan6.com, Kinshasa - Tim ilmuwan internasional mengonfirmasi penemuan spesies baru monyet yang hidup di hutan tropis Republik Demokratik Kongo (DRC). Primata berbulu hitam dengan bibir berwarna merah muda-oranye mencolok itu ditemukan di kawasan hutan lebat Taman Nasional Lomami, wilayah timur-tengah negara tersebut.
Dikutip dari BBC, Jumat (17/7/2026), spesies baru ini diberi nama ilmiah Colobus congoensis dan menjadi salah satu penemuan primata paling langka dalam beberapa dekade terakhir.
Advertisement
Menurut para peneliti, ini merupakan spesies monyet Afrika kelima yang berhasil dideskripsikan secara ilmiah dalam 75 tahun terakhir.
Keberadaan monyet tersebut sebenarnya pertama kali dilaporkan oleh para pegiat konservasi pada 2008. Namun, saat itu mereka hanya berhasil memperoleh satu foto buram sehingga belum dapat memastikan identitas hewan tersebut.
Satu dekade kemudian, kemunculan kembali primata itu mendorong tim peneliti dari Republik Demokratik Kongo, Amerika Serikat, dan Jerman melakukan penelitian lebih mendalam.
Mereka menggunakan rekaman suara, dokumentasi fotografi, serta analisis genetik untuk memastikan bahwa monyet tersebut merupakan spesies yang sebelumnya belum pernah tercatat dalam dunia ilmiah.
Hasil penelitian itu kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLoS One.
Junior Amboko, mahasiswa doktoral dari Florida Atlantic University yang memimpin pencarian tersebut, mengatakan pengalaman bertemu langsung dengan satwa yang hampir tidak dikenal dunia merupakan momen yang luar biasa.
"Rasanya sangat menakjubkan bisa menatap wajah seekor hewan yang keberadaannya hanya diketahui oleh segelintir orang," ujarnya.
Dikenal Warga Lokal, Baru Diakui lmuwan
Meski baru diklasifikasikan sebagai spesies baru, masyarakat lokal sebenarnya telah lama mengenal primata tersebut dan menyebutnya dengan nama Likweli.
Dalam ilmu biologi, penemuan spesies tidak selalu berarti hewan itu baru pertama kali ditemukan. Istilah tersebut mengacu pada proses ilmiah untuk memastikan bahwa suatu organisme memiliki karakter genetik yang berbeda sehingga layak diklasifikasikan sebagai spesies tersendiri.
Menurut Amboko, monyet Likweli memiliki sifat yang sangat pemalu dan lebih sering bersembunyi di kanopi hutan yang tinggi sehingga sulit diamati.
Tim peneliti bahkan mewawancarai warga di 52 desa yang berada di sekitar habitatnya. Hasilnya, hanya penduduk dari delapan desa yang mengaku pernah melihat satwa tersebut secara langsung.
Berperan Penting bagi Ekosistem Hutan
Para peneliti menamai spesies baru ini Colobus congoensis sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan hayati Republik Demokratik Kongo.
Monyet tersebut termasuk dalam kelompok monyet colobus, primata khas Afrika yang tidak memiliki ibu jari seperti kebanyakan jenis monyet lainnya.
Profesor Kate Detwiler dari Florida Atlantic University menjelaskan bahwa monyet colobus memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.
Sebagai hewan pemakan tumbuhan yang hidup di kanopi hutan, mereka membantu penyebaran dan perkecambahan biji sehingga berkontribusi terhadap regenerasi hutan.
Para ilmuwan juga menduga warna bibir yang mencolok berfungsi sebagai sinyal visual bagi sesama monyet, baik untuk mengenali individu lain maupun menarik pasangan.
Selain penampilannya yang unik, spesies ini memiliki suara khas berupa raungan keras yang sering terdengar dari kejauhan.
"Sering kali kami mendengar suaranya, tetapi tidak pernah melihat hewannya," kata Amboko.
Terancam Perburuan
Para peneliti memperkirakan populasi Colobus congoensis sangat terbatas dan hanya hidup di kawasan hutan tertentu yang masih menyediakan sumber makanan serta habitat yang sesuai.
Namun, keberadaan mereka menghadapi ancaman serius akibat perburuan untuk diambil dagingnya.
Karena kini telah diakui sebagai spesies tersendiri, para peneliti berharap monyet tersebut dapat segera memperoleh perlindungan hukum sehingga upaya konservasi bisa dilakukan secara lebih efektif.
Meski telah berhasil mengidentifikasi spesies baru ini, para ilmuwan mengakui masih banyak hal yang belum diketahui mengenai kehidupan Colobus congoensis.
Penelitian lanjutan akan dilakukan untuk memperkirakan jumlah populasinya di alam liar sekaligus mempelajari perilaku dan pola hidup satwa langka tersebut sebagai dasar penyusunan strategi konservasi di masa mendatang.