Review Film The Odyssey: Terseret Masuk dalam Kerasnya Dunia Mitologi Christopher Nolan

Film The Odyssey adalah sebuah perjalanan yang begitu panjang, tapi layak untuk dijalani. Akankah ia berlayar jauh hingga ke Oscar?

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 16 Juli 2026, 11:34 WIB
Film The Odyssey. (dok. Universal Pictures Indonesia)

Liputan6.com, Jakarta - Tak berlebihan bila menyebut bahwa nama Christopher Nolan punya daya magnet kuat untuk para cinephile. Setelah mengeksplorasi kehidupan sang Bapak Atom dalam Oppenheimer yang meraih Piala Oscar, kini ia berlayar menuju Yunani Kuno dalam The Odyssey

Diadaptasi dari epik mashyur karya Homer, filmnya memiliki dua percabangan plot. 

Pertama adalah kehidupan ibu-anak yang tengah terjepit: Penelope (Anne Hathaway) dan Telemachus (Tom Holland). Bertahun-tahun telah lewat dari kepergian suaminya, Odysseus (Matt Damon) Sang Raja Ithaka yang ikut serta dalam perang Agamemnon ke Troya, tapi ia tak juga pulang. Yang sampai ke kerajaan, hanyalah lagu puji-pujian tentang kecerdikan dan keberanian Odysseus dalam perang tersebut, sementara keberadaannya masih jadi misteri.

"Yang kuinginkan adalah Odysseus, bukan lagu-lagu!" ujar Penelope tajam. 

Kekosongan sosok raja, membuat posisi Penelope kian rapuh. Ia kini didekati oleh puluhan pria yang mencoba meminangnya. Malam demi malam, pria-pria ini berpesta di istananya--untuk mendekatinya sekaligus memanfaatkan hukum Zeus: bahwa seseorang mesti menjamu tamu yang datang ke rumahnya dengan baik. 

Penelope paham, ia tak bisa terus mengulur waktu, karena posisi Ithaka makin rentan tanpa keberadaan raja. Sementara baginya, Telemachus masih bocah yang belum pantas naik takhta. 

Setelah adu mulut dengan sang ibu, kesabaran Telemachus akhirnya habis. Ia menyelinap keluar istana untuk mencari tahu keberadaan sang ayah, meski tahu para peminang Penelope mengincar nyawanya. 


Odysseus di Mana?

Film The Odyssey. (dok. Universal Pictures Indonesia)

Lantas, di mana Odysseus berada?

Ia rupanya ia hidup bersama sesosok nymph bernama Calypso (Charlize Theron) yang selama ini menolong dan merawatnya. Masalahnya, Odysseus lupa dengan diri, keluarga, dan juga masa lalunya. Dengan bantuan Calypso dan sosok gaib yang ia sebut sebagai Athena (Zendaya), secara pelan-pelan Odysseus mulai merangkai kepingan ingatannya kembali.

Mulai dari kemenangannya di Troya dan perjalanan pulangnya yang penuh dengan cobaan dan musibah. Mulai dari pertemuan dengan Cyclops, penyihir Circe, moster berkepala enam Scylla, hingga siren dan nyanyian mautnya.

Begitu puzzle dalam memorinya telah genap, apakah akhirnya Odysseus siap untuk pulang?

Lanjut Baca:

Christopher Nolan kembali menghadirkan kepiawaiannya dalam mengolah audio dan visual dalam karyanya yang menyeret masuk para penonton dalam jagat ceritanya. Bahkan secara indrawi. Penonton ikut terhanyut merasakan penat dan capeknya terombang ambing dalam kapal yang diterjang badai. Atau sumpek dan pengapnya ruang sempit di dalam kuda Troya yang diisi belasan pria yang berhari-hari bersembunyi di sana. Juga ngerinya derap langkah para ksatria yang bangkit dari kematian, saat menerjang penuh kemarahan. Namun The Odyssey tak hanya soal kedahsyatan visual dan audio saja. Sepanjang film yang berdurasi tiga jam, ada banyak hal yang diselipkan Nolan--tentu masih dalam kerangka karya Homer. Mulai dari kisah cinta, free will vs takdir,  momen coming of age, hingga cerita pembalasan dendam  Namun tema besar yang diangkat, adalah penyesalan dan penebusan atas kesalahan yang pernah dibuat. Diceritakan lewat sosok Odysseus yang dielu-elukan bak pahlawan, tapi toh nyatanya bukan sosok sempurna. Ini pun terucap dalam salah satu dialog Odyssey, "Jangan letakkan dewa-dewa dalam diri manusia, karena kamu akan kecewa."  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya