17 Juli 1945: Kesan Truman Saat Bertemu Stalin, Jujur tapi Sangat Cerdik

Presiden Truman mencatat pertemuan pertamanya dengan Stalin pada 17 Juli 1945.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 17 Juli 2026, 06:00 WIB
Presiden ke-33 AS Harry S. Truman mencatat pertemuannya dengan stalin pada 17 Juli 1945 (AP)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Harry S. Truman mencatat kesan pertamanya terhadap Stalin pada 17 Juli 1945.

Dikutip dari History.com, Jumat (17/7/2026), dalam tulisannya, Truman menggambarkan pertemuan pertamanya dengan pemimpin Soviet yang menakutkan itu sebagai pertemuan yang ramah.

“Beberapa waktu sebelum pukul 12, aku memalingkan wajah dari meja dan melihat Stalin di depan pintu. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Ia memberikan tangannya dan tersenyum. Akupun melakukan hal yang sama, kami berjabat tangan lalu duduk,” tulisnya.

Kemudian, setelah saling bertukar sapa, mereka membahas kebijakan pasca Perang Dunia II di Eropa. Pada saat itu, AS masih terlibat dalam perang melawan Jepang dan Truman ingin tahu bagaimana rencana Stalin terkait wilayah Eropa yang sekarang ia kendalikan.

Truman memberi tahu Stalin bahwa gaya diplomatiknya itu lugas dan terus terang, pengakuan yang menurut Truman membuat Stalin senang.

Ia berharap agar Uni Soviet untuk ikut dengan AS melawan Jepang. Sebagai gantinya, Stalin ingin punya kendali atas wilayah-wilayah tertentu yang dianeksasi oleh Jepang dan Jerman di awal Perang.

Mendengar itu, Truman memberi sinyal bahwa walaupun rencana Stalin bersifat agresif seperti dinamit, AS kini memiliki amunisi untuk melawan pemimpin komunis tersebut.

Pada saat itu, Presiden Amerika ke-33 tersebut tidak membocorkan kepada Stalin tentang Proyek Manhattan, tempat di mana pengujian bom atom pertama di dunia berhasil dilakukan. Ia menyadari bahwa senjata baru itu memperkuat posisinya.

Dalam buku hariannya, Truman menyebut rahasia ini sebagai “Beberapa dinamit  yang belum aku ledakkan saat ini,”

Setelah pertemuan berakhir, Truman, Stalin, dan para penasihat yang ikut bersama mereka, “makan siang bersama, berbincang ringan dan memberikan pertunjukan meriah, bersulang untuk semua orang” lalu kemudian berpose untuk difoto.

Catatan harian itu ditutup dengan nada penuh keyakinan, “aku bisa menghadapi Stalin, dia jujur tapi sangat cerdik.”

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya