Malaysia Memimpin Jumlah IPO di Asia Tenggara

Deloitte mencatat 47 IPO di Asia Tenggara hingga semester I 2026, dengan perolehan dana dihimpun Rp 55,52 triliun.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 Juli 2026, 19:26 WIB
Ilustrasi bendera Malaysia. (Unsplash/mkjr_)

Liputan6.com, Jakarta - Malaysia menjadi pasar utama untuk penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di Asia Tenggara pada semester I 2026. Jumlah pencatatan saham mencapai 36, demikian berdasarkan laporan Deloitte yang dirilis 13 Juli 2026.

Mengutip Strait Times, Selasa (14/7/2026), pencatatan saham di Malaysia menghimpun dana US$ 1,3 miliar atau Rp 23,50 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.080).

Secara total, Asia Tenggara mencatat 47 IPO di seluruh wilayah pada paruh pertama 2026. Total dana yang dihimpun lebih dari US$ 3,07 miliar atau Rp 55,52 triliun.

Jumlah ini meningkat dari semester pertama 2025 sebesar 53 IPO dengan perolehan dana yang dihimpun US4 1,41 miliar atau Rp 25,50 triliun.

Laporan Deloitte menyoroti pasar IPO Asia Tenggara yang tangguh dan terus menarik pencatatan saham yang lebih besar, dan berkualitas tinggi meskipun terjadi  moderasi dalam volume IPO secara keseluruhan.

Laporan itu mencatat pasar menunjukkan pergeseran signifikan ke arah transaksi lebih besar.

Dibandingkan paruh pertama 2025, perolehan IPO 2026 naik 117%. Rata-rata transaksi IPO tumbuh 2,5 kali lipat dari US$ 26 juta atau Rp 470,23 miliar menjadi US$ 65 juta atau Rp 1,17 triliun.

“Ini mencerminkan tren berkelanjutan di mana kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas karena investor fokus pada emiten yang lebih besar, lebih kuat, dan matang,” demikian seperti dikutip dari laporan Deloitte.

Kinerja pencatatan saham di Asia Tenggara didukung oleh tiga IPO besar yang masing-masing mengumpulkan lebih dari US$ 500 juta atau Rp 9,04 triliun.

Tiga IPO itu antara lain UI Boustead real estate investment trust di Singapura, Sunway Healthcare Holdings di Malaysia dan Dien May Xanh Investment di Vietnam.

 

Pencatatan Saham

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Secara bersamaan, pencatatan saham ini menyumbang sekitar US$ 8,93 miliar atau Rp 161,50 triliun dalam kapitalisasi pasar. Pada paruh pertama 2025, tidak ada IPO yang melebihi US$ 500 juta atau Rp 9,04 triliun dalam perolehan dana.

Pada semester II 2026, laporan Deloitte mengatakan, pasar IPO Asia Tenggara akan tetap sehat, didukung oleh banyaknya emiten baru. Selain itu, sentimen investor yang membaik dan kondisi suku bunga yang lebih longgar.

Deloitte South-east Asia Capital Markets Services Leader, Tay Hwee Ling menuturkan, meskipun volume pencatatan saham secara keseluruhan mungkin tetap selektif, pasar akan terus lebih menyukai transaksi yang lebih sedikit tetapi lebih besar, dan berkualitas tinggi.

Ia menambahkan, Malaysia akan mempertahankan momentum IPO yang kuat. Namun, Tay memperingatkan, ketidakpastian ekonomi makro global serta pengawasan investor yang lebih ketat terhadap valuasi dan kinerja pasar sekunder akan terus memengaruhi waktu dan keberhasilan peluncuran IPO.

“Meskipun demikian, perusahaan dengan fundamental yang kuat, strategi pertumbuhan yang jelas, dan penetapan harga yang tepat akan terus menarik minat investor,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya