Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama disebabkan kenaikan nilai impor minyak dan gas (migas) akibat lonjakan harga minyak dunia. Meski demikian, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 masih mencatat surplus sekitar US$ 4 miliar.
Budi mengatakan, kinerja ekspor nasional juga masih menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 3,02%. Dia menuturkan, defisit pada Mei bukan disebabkan meningkatnya volume impor, melainkan kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus di atas US$ 100 per barel.
Advertisement
"Secara kumulatif Januari-Mei kita surplus sekitar US$ 4 miliar. Kemudian ekspornya juga naik 3,02%. Memang bulan Mei defisit karena impor migas tinggi,” ujar Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, neraca perdagangan nonmigas tetap mencatat surplus sekitar US$ 2,1 miliar, sedangkan tingginya impor migas menyebabkan defisit keseluruhan mencapai sekitar US$ 1,6 miliar.
“Volume impor migas dan nonmigas sebenarnya turun, tapi nilainya naik karena harga minyak lagi tinggi, di atas US$ 100. Mudah-mudahan Juni bisa membaik karena grafik harga minyak sudah mulai turun,” katanya.
Untuk memperkuat kinerja ekspor pada semester II 2026, Kemendag menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan buku We Buy From Indonesia. Buku tersebut akan menjadi materi promosi bagi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri guna menarik lebih banyak pembeli serta investor berorientasi ekspor.
Budi mengatakan, promosi diperlukan karena banyak calon pembeli internasional belum mengetahui kapasitas industri manufaktur Indonesia yang telah menjadi bagian dari rantai pasok global.
“Kita kasih bukunya itu untuk membantu mencarikan buyer atau investor yang berorientasi ekspor. Buyer di luar negeri kadang-kadang belum tahu potensi Indonesia yang lebih besar,” ujarnya.
Selain memperluas promosi, Kemendag juga mendorong perusahaan multinasional meningkatkan alokasi ekspor dari Indonesia. Salah satunya dilakukan melalui komunikasi dengan Epson Jepang agar meningkatkan kuota ekspor produk yang diproduksi di Indonesia.
Purbaya: Lonjakan Impor Migas Picu Defisit Neraca Dagang
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, defisit neraca dagang yang terjadi belakangan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya nilai impor minyak dan gas (migas) seiring kenaikan harga energi dunia.
Purbaya mengatakan, Indonesia sebenarnya telah menikmati surplus neraca dagang selama beberapa tahun terakhir. Dia menuturkan, kondisi tersebut baru berubah ketika nilai impor migas melonjak.
“Karena itu, kita impor migas, (ketika) harganya naik,” kata Purbaya kepada wartawan, Rabu malam, 1 Juli 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertama kalinya neraca dagang defisit setelah mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$ 89,1 juta pada April 2026.
Purbaya menyebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-Mei 2026 masih tercatat surplus US$ 4,03 miliar. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar, sementara komoditas migas masih defisit US$ 12,28 miliar.
Ia mengaku, belum menelaah secara rinci komponen impor gas yang turut memengaruhi neraca dagang. Namun, ia memastikan kenaikan impor energi menjadi faktor utama yang mendorong perubahan dari surplus menjadi defisit.
Soroti Perkembangan Inflasi
Selain menyoroti neraca dagang, Purbaya juga menanggapi perkembangan inflasi. Menurut dia, kenaikan harga sejumlah komoditas masih dipengaruhi faktor musiman sehingga tekanan inflasi diperkirakan akan mereda.
Purbaya optimistis penurunan harga minyak dunia secara bertahap akan mengurangi tekanan terhadap inflasi domestik.
“Saya berharap setelah harga minyak turun, tekanan terhadap inflasi juga akan berkurang secara bertahap mengikuti pergerakan harga minyak dunia,” ujarnya.