Liputan6.com, Jakarta - Saham SpaceX milik miliarder Elon Musk merosot berdampak terhadap kekayaan Elon. Kini kekayaan Elon Musk berada di bawah US$ 900 miliar.
Mengutip Forbes, Selasa, (14/7/2026), harga saham SpaceX turun 3,8% ke US$ 140 atau sekitar Rp 2,5 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.103). Angka ini nyaris menyentuh harga Initial Public Offering (IPO) SpaceX yang dibanderol US$ 135, setara Rp 2,4 juta.
Advertisement
Saham SpaceX yang melemah itu memangkas kekayaan Elon Musk. Kekayaan CEO Tesla ini turun US$ 37,9 miliar atau Rp 685,9 triliun, dari total kekayaan Elon Musk US$ 879,3 miliar atau Rp 15.902 triliun.
Meski kekayaan turun, Elon Musk masih mempertahankan posisi sebagai orang terkaya di dunia. Posisi dia tepat di atas pendiri Google yakni Larry Page dengan kekayaan US$ 290,1 miliar atau Rp 5.246 triliun. Selain itu, pendiri Google lainnya Sergey Brin dengan kekayaan US$ 267,6 miliar atau Rp 4.839 triliun.
Adapun puncak kekayaan Elon Musk tercatat pada Juli 2026, di US$ 1,4 triliun, atau Rp 25.320 triliun. Ini seiring dengan puncak saham SpaceX di US$ 225, atau sekitar Rp 4 juta. Akan tetapi, semenjak itu, nilai tersebut turun lebih dari 38%. Pada saat yang bersamaan, saham Tesla yang juga dimiliki Elon Musk menurun sebanyak 3%.
Elon Musk memegang sebanyak 4,8 miliar saham SpaceX dan 350 opsi saham lain, ditambah dengan sekitar 700 juta saham Tesla.
Pasar Tetap Optimistis di Tengah Fluktuasi Saham
Saham SpaceX meskipungoyah, Wall Street tetap menunjukkan kondisi pasar yang optimistis (bullish). Raymond James menaruh target harga sebesar US$ 800, atau sekitar Rp 14,4 juta, menunjukkan valuasi pasar jauh di atas US$ 10 triliun, atau sekitar Rp 181 kuadriliun.
Pialang secara garis besar memperkirakan saham SpaceX bernilai US$ 236, atau kisaran Rp 4,2 juta, menurut data FactSet, dikutip dari Forbes, dengan target US$ 401, yaitu sekitar Rp 7,2 juta dari Arete Research, US$ 300, atau sekitar Rp 5,4 juta dari Morgan Stanley, dan US$ 205, atau Rp 3,7 juta dari Goldman Sachs.
Teknologi Buatan Elon Musk Dinilai Berpotensi Tinggi
Saham SpaceX sudah fluktuatif semenjak debut fenomenalnya bulan Juni lalu. Sehari setelah IPO-nya, saham SpaceX memuncak tertinggi sepanjang sejarah. Namun, setelahnya, harga saham tersebut mengalami penurunan dalam 11 dari total 17 sesi perdagangan
Analis Raymond James, Brian Gesuale, mengungkap posisi teguhnya terhadap SpaceX terbentuk karena pembuat roket milik Musk “membangun fondasi bagi kapasitas industri generasi berikutnya.”
Selain itu, seorang analis yang sejak lama optimis terhadap Tesla, Dan Ives, menulis dalam sebuah catatan untuk Wedbush Securities, mengutip Forbes, SpaceX adalah “salah satu aset paling unik di pasar teknologi.”
Ives juga berkomentar, pembuat roket milik Musk “berpotensi menjadi perusahaan hyperscaler besar” dalam konektivitas, peluncuran roket, dan infrastruktur AI.