Liputan6.com, Teheran - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara melancarkan serangkaian serangan baru yang memperluas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (14/7/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan rudal balistik yang menargetkan pasukan Amerika Serikat dan sejumlah fasilitas penting di sebuah pangkalan udara di Yordania.
Advertisement
Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah pemerintah Yordania mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat empat rudal yang diluncurkan dari Iran.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun korban akibat serangan yang diklaim oleh Iran. Situasi di kawasan Timur Tengah pun masih terus dipantau karena dikhawatirkan eskalasi konflik akan semakin meluas.
AS Gempur Sejumlah Wilayah Iran
Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di Pulau Kish, Pulau Qeshm, Bushehr, dan Bandar Abbas. Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut.
Sebagai balasan, pemerintah Iran menyatakan telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Selain itu, Teheran juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal yang disebut sebagai "kapal musuh Amerika" di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa dua kapal tanker berbendera negaranya menjadi sasaran rudal jelajah Iran. Serangan itu mengakibatkan satu awak kapal tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Otoritas UEA belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai lokasi maupun tingkat kerusakan kedua kapal tersebut.
Perang Diperkirakan akan Berlangsung Lama
Di tengah meningkatnya konflik, hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat memperkirakan keterlibatan militer negaranya di Iran akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Sebanyak 79 persen responden atau hampir delapan dari setiap sepuluh warga Amerika meyakini operasi militer AS akan terus berlanjut untuk waktu yang lama. Angka tersebut meningkat 14 poin persentase dibandingkan survei pada akhir Maret lalu, ketika 65 persen responden memiliki pandangan serupa.
Survei yang sama juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Amerika masih tidak mendukung perang tersebut. Sebanyak 58 persen responden menyatakan menolak operasi militer terhadap Iran, sementara 37 persen menyatakan mendukung serangan yang dilakukan pemerintah AS.
Selain itu, lebih banyak warga Amerika menilai aksi militer terhadap Iran tidak sepadan dengan risikonya. Sebanyak 51 persen responden mengatakan keterlibatan militer AS tidak layak dilakukan, sedangkan hanya 24 persen yang menilai langkah tersebut layak. Sebanyak 23 persen lainnya menyatakan belum memiliki pendapat.