Rupiah Makin Melemah, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Nilai tukar rupiah turun tipis ke 18.115 per dolar AS. Ekonom menyebut sentimen global masih menjadi penekan utama.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Juli 2026, 11:15 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah di penukaran uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Pelemahan ini dipicu sikap pelaku pasar yang masih menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta pernyataan Ketua bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yang dinilai akan memengaruhi arah suku bunga ke depan.

Mengutip data pasar, rupiah turun 6 poin atau 0,03% menjadi 18.115 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di 18.109 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan pergerakan rupiah masih akan terbatas di kisaran 18.060 per dolar AS hingga 18.170 per dolar AS.

"Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran 18.060 per dolar AS–18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar 18.100 per dolar AS–18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli," ucapnya dikutip dari Antara.

Menurut Josua, apabila inflasi AS lebih rendah dari perkiraan dan pernyataan Ketua The Fed tidak bernada agresif (hawkish), rupiah berpeluang menguat ke kisaran 18.030 per dolar AS hingga 18.080 per dolar AS.

Sebaliknya, jika inflasi inti AS tetap tinggi atau sinyal kebijakan moneter masih ketat, rupiah diperkirakan dapat melemah hingga menyentuh 18.180 per dolar AS–18.220 per dolar AS.

 

Tekanan Harga Minyak Dunia

Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pelaku pasar saat ini memperkirakan inflasi tahunan Amerika Serikat pada Juni melambat menjadi 3,9%, sementara inflasi inti diperkirakan masih bertahan di 2,9%. Menurut Josua, data tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan," kata Josua.

Selain sentimen dari Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi tekanan bagi rupiah. Harga minyak Brent tercatat naik 3,43% secara harian menjadi US$ 78,6 per barel atau telah melonjak sekitar 29,2% sejak awal tahun. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban impor energi Indonesia.

Di sisi lain, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan prospek stabil memberikan sentimen positif bagi pasar. Menurut Josua, keputusan tersebut membantu meredam tekanan terhadap rupiah karena mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

"Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah besar-besaran," ungkap Josua.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya