Sentimen S&P Jadi Penyelamat IHSG, Investor Wait and See Akibat Konflik Global

S&P pertahankan rating utang RI di level BBB, dorong IHSG kembali ke level 6.000 meski asing masih mencatat net sell akibat tekanan geopolitik global.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 14 Juli 2026, 13:20 WIB
Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade) dengan outlook stabil. Pengamat pasar modal Hendra Wardana, menilai berita positif dari S&P Global Ratings ini menjadi katalis utama yang mendorong IHSG menguat 1,92% hingga kembali menembus level psikologis 6.000.

"Keputusan tersebut memberikan sinyal bahwa lembaga pemeringkat internasional masih menilai fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat, mulai dari kemampuan menjaga stabilitas fiskal, ketahanan sektor keuangan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah," kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, bagi pelaku pasar kepastian bahwa tidak terjadi penurunan peringkat maupun perubahan outlook menjadi kabar yang melegakan, karena sebelumnya sempat muncul kekhawatiran adanya revisi negatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Namun demikian, penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan masuknya dana asing secara agresif. Tercatat investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp 412 miliar, menunjukkan bahwa sebagian investor global masih memilih bersikap hati-hati.

"Kondisi ini dapat dipahami karena sentimen eksternal masih dibayangi meningkatnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia setelah muncul isu penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia," ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp 18.100 per dolar AS juga menjadi faktor yang membuat investor asing belum sepenuhnya meningkatkan eksposur pada aset domestik. Dengan kata lain, sentimen positif dari dalam negeri masih harus berhadapan dengan tekanan global yang belum mereda.

Investor Perlu Cermat

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi teknikal, keberhasilan IHSG kembali berada di atas level 6.000 membuka peluang untuk melanjutkan penguatan menuju resistance psikologis di kisaran 6.080–6.100, bahkan apabila didukung peningkatan volume transaksi dan berkurangnya tekanan jual asing, ruang kenaikan masih dapat berlanjut.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati area support kuat di sekitar 5.887. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, tren pemulihan jangka pendek masih dinilai terjaga.

"Sebaliknya, apabila tekanan eksternal semakin meningkat dan arus keluar dana asing berlanjut, volatilitas pasar berpotensi kembali meningkat," ujarnya.

Ke depan, arah pergerakan pasar tidak hanya akan ditentukan oleh sentimen domestik, tetapi juga perkembangan global, terutama dinamika konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, arah suku bunga Amerika Serikat, serta musim laporan keuangan emiten global yang akan dimulai pekan ini.

"Di dalam negeri, investor juga akan mencermati stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, serta konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya