Hadapi Risiko Siber dan AI, OJK Tekankan Penguatan Tata Kelola

Lewat RGS 2026, OJK tekankan pentingnya tata kelola kuat guna hadapi ancaman siber, penyalahgunaan AI, dan anomali transaksi di sektor keuangan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Juli 2026, 10:15 WIB
Ketua Dewan Audit sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Sophia Issabella Watimena dalam acara RGS OJK 2026, di Hotel Bidakara, Selasa (14/7/2026). (Liputan6.com/Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya penguatan tata kelola dan manajemen risiko untuk menghadapi ancaman siber, penyalahgunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta ketidakpastian global yang semakin kompleks.

Komitmen tersebut menjadi fokus utama dalam Risk and Governance Summit (RGS) OJK 2026 yang mengusung tema "Future-Ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity".

Ketua Dewan Audit sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Issabella Watimena mengatakan bahwa tata kelola yang kuat menjadi kunci utama agar berbagai kebijakan pembangunan nasional dapat diwujudkan secara efektif menuju Indonesia Emas 2045.

“Keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan yang baik, tetapi juga pada tata kelola yang mampu menerjemahkannya menjadi hasil nyata bagi masyarakat,” ujar Sophia dalam acara RGS OJK 2026 di Hotel Bidakara, Selasa (14/7/2026).

Tantangan Utama: Siber, AI, dan Geopolitik

Sophia menjelaskan hasil survei OJK terhadap praktisi Governance, Risk, and Compliance (GRC) menunjukkan bahwa beberapa poin berikut kini menjadi perhatian utama industri:

  • Risiko serangan siber
  • Penyalahgunaan teknologi AI
  • Perubahan regulasi
  • Ketidakpastian geopolitik
  • Dampak perubahan iklim.

Temuan ini juga sejalan dengan hasil survei dari berbagai lembaga global. Menurut Sophia, data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan adanya anomali transaksi yang cukup signifikan di sektor jasa keuangan. Hal ini membutuhkan pengawasan yang terintegrasi dan kolaboratif.

"Kami melihat dari data BSSN bahwa anomali transaksi cukup signifikan. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama secara terintegrasi dan kolaboratif, serta didukung oleh tata kelola dan akuntabilitas yang kuat," tambahnya.

 

Antusiasme RGS 2026 Meningkat Tajam

Penyelenggaraan RGS tahun ini mencatatkan peningkatan antusiasme yang luar biasa. Jumlah peserta yang hadir secara langsung mencapai 700–800 orang, sementara peserta daring melampaui 20.000 orang—meningkat lebih dari 25% dibandingkan tahun lalu.

Selain menghadirkan pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri jasa keuangan, dan akademisi, RGS 2026 juga merangkul pelaku UMKM termasuk komunitas difabel.

OJK juga menggelar Innovation Paper Competition bertema "Building Digital Trust and Ethical Governance for Indonesia’s Future". Kompetisi ilmiah ini berhasil menjaring lebih dari 1.000 karya ilmiah, melonjak hingga 80% dibanding tahun sebelumnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya