Odeng dan Ramen Instan Jadi Rahasia Kehangatan Praktis, Begini Cara Mengolahnya Lebih Sehat di Rumah

Odeng dan ramen instan populer sebagai hidangan praktis. Artikel ini mengulas sejarah, tantangan gizi, dan cara mengolahnya menjadi sajian rumahan yang lebih se

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 16 Juli 2026, 08:00 WIB
Ilustrasi Ramen. (Foto: Stephen Bedase//Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, hidangan yang menawarkan kehangatan, kepraktisan, dan rasa memuaskan menjadi pilihan utama banyak orang. Odeng Bar dan ramen instan telah lama menempati posisi istimewa sebagai sajian favorit global. Namun, di balik kemudahannya, kedua hidangan ini menyimpan kisah budaya yang kaya serta potensi besar untuk diolah menjadi sajian rumahan yang lebih lezat dan bergizi.

Odeng, atau yang dikenal sebagai eomuk di Korea, merupakan kue ikan olahan yang sangat digemari, terutama sebagai jajanan kaki lima yang menghangatkan di tengah cuaca dingin. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang kenyal menjadikannya pilihan yang memuaskan bagi penikmat kuliner.

Sementara itu, ramen instan telah merevolusi cara makan di seluruh dunia. Dikenal karena harganya yang terjangkau, kemudahan persiapan, dan cita rasa yang akrab, hidangan mi ini menjadi penyelamat bagi mahasiswa, pekerja sibuk, dan siapa saja yang membutuhkan santapan cepat.

Odeng: Dari Jajanan Kaki Lima hingga Warisan Kuliner Korea

ilustrasi odeng (Unsplash.com/seoul_lover_lily)

Odeng, yang secara etimologis berasal dari kata Jepang "oden", memiliki nama asli Korea yaitu eomuk. Popularitas kue ikan ini sebagai jajanan kaki lima di Korea Selatan tidak diragukan lagi, terutama saat suhu udara menurun. Kehangatan kaldu gurihnya seringkali menjadi daya tarik utama yang memikat banyak orang.

Sejarah kue ikan ini dapat ditelusuri jauh ke belakang, dimulai dari Dinasti Qin pada abad ke-3 SM. Varian Jepang, kamaboko, mulai muncul pada periode Heian, sementara catatan Korea tentang saengseon sukpyeon ditemukan pada tahun 1719. Popularitas odeng di Korea semakin meningkat selama masa pendudukan Jepang, dengan kota Busan menjadi pusat produksi utama berkat kedekatannya dengan Jepang.

Setelah Perang Korea, eomuk memainkan peran penting sebagai sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat yang menghadapi kekurangan pangan. Komposisi utamanya meliputi ikan putih giling seperti pollock Alaska, cod, atau tilapia, yang dicampur dengan tepung dan sayuran cincang halus seperti wortel serta bawang bombay. Adonan ini kemudian dibentuk menjadi lembaran, bola, atau oval, lalu digoreng.

Di jalanan, odeng umumnya disajikan dengan ditusuk sate dan direbus dalam kaldu gurih yang asin. Kaldu ini juga sering dinikmati sebagai minuman pelengkap. Meskipun digemari, ada persepsi umum di Korea bahwa kue ikan kemasan yang dijual di toko tidak selalu dianggap sehat. Namun, odeng yang terbuat dari ikan giling dan tepung tetap merupakan hidangan kaya protein. Beberapa produsen di Busan bahkan menawarkan eomuk "bermutu tinggi" dengan kandungan daging ikan mencapai lebih dari 90 persen.

Ramen Instan: Revolusi Makanan Cepat Saji dan Tantangan Gizi

Ilustrasi ramen./Copyright unsplash.com/@migmal

Ramen instan adalah inovasi kuliner global yang mengubah lanskap makanan cepat saji. Penciptanya adalah Momofuku Ando di Jepang pada tahun 1958, sebagai respons atas krisis pangan pasca-Perang Dunia II. Inovasi ini memungkinkan mi pra-masak yang renyah dan tahan lama, cukup dengan penambahan air panas.

Pada tahun 1971, Ando kembali memperkenalkan terobosan dengan Cup Noodles, yang semakin meningkatkan aksesibilitas dan portabilitas ramen instan. Kini, lebih dari 120 miliar porsi ramen instan dikonsumsi setiap tahun di seluruh dunia, dengan Korea Selatan memimpin dalam konsumsi per kapita.

Meskipun praktis, ramen instan seringkali menuai kritik terkait profil nutrisinya. Para ahli gizi menyoroti bahwa hidangan ini umumnya rendah serat, protein, serta vitamin dan mineral esensial seperti vitamin A, C, B12, kalsium, magnesium, dan kalium.

Salah satu kekhawatiran utama adalah kandungan natrium yang tinggi. Satu bungkus ramen instan dapat mengandung hingga 1.760 mg natrium, yang setara dengan 88 persen dari rekomendasi harian WHO sebesar 2 gram. Konsumsi natrium berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.

Sebuah studi yang melibatkan 6.440 orang dewasa Korea menemukan bahwa mereka yang rutin mengonsumsi mi instan memiliki asupan protein, fosfor, kalsium, zat besi, kalium, niasin, serta vitamin A dan C yang lebih rendah. Konsumsi mi instan secara teratur juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, yang mencakup lemak perut berlebih, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kadar lipid darah abnormal. Selain itu, mi instan yang sangat diproses cenderung sulit dicerna oleh perut, bahkan setelah dua jam, mengganggu proses pencernaan normal.

Janae Cox, seorang ilmuwan nutrisi, menjelaskan bahwa proses pembuatan mi instan, baik digoreng cepat maupun dikeringkan dengan udara panas, mengubah molekul pati secara fundamental. Mi instan dapat memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi (55-70) dibandingkan mi segar (40-50), yang berarti pankreas harus bekerja lebih keras untuk mengatasi lonjakan glukosa yang lebih cepat.

Kreasi Rumahan: Mengubah Odeng dan Ramen Instan Lebih Sehat

Ilustrasi ramen (Dok.Unsplash/Crystal Jo)

Meskipun ada kekhawatiran nutrisi, baik odeng maupun ramen instan dapat diubah menjadi hidangan yang lebih sehat dan memuaskan dengan sedikit kreativitas dan penambahan bahan. Kuncinya adalah memaksimalkan nutrisi dan meminimalkan bahan-bahan yang kurang sehat.

Untuk odeng, membuat Eomuk-guk (odeng kuah hangat) di rumah adalah cara praktis untuk menikmati hidangan ini dengan kontrol bahan yang lebih baik. Prosesnya melibatkan pembuatan kaldu gurih dari dashi atau ikan teri kering dan rumput laut, ditambah irisan lobak Korea, lalu membumbui dengan kecap asin Korea dan bawang putih. Kue ikan kemudian dimasak dalam kaldu tersebut hingga mengembang, dan dapat disajikan dengan taburan daun bawang serta irisan cabai segar.

Dalam meng-upgrade ramen instan, langkah pertama yang disarankan adalah mengurangi atau membuang sebagian besar bumbu bubuk instan untuk memangkas asupan natrium. Sebagai gantinya, gunakan kaldu ayam atau sayuran sebagai dasar kuah saat merebus mi.

Penambahan protein sangat dianjurkan, seperti telur (rebus, setengah matang, atau orak-arik), irisan daging ayam atau sapi, tahu, atau tempe. Ini akan meningkatkan kandungan gizi dan membuat hidangan lebih mengenyangkan.

Jangan lupakan sayuran untuk menambah serat dan vitamin. Anda bisa menambahkan daun bawang, bok choy, bayam, jamur shiitake, wortel, atau kimchi. Sayuran hijau dapat direbus bersama mi, sementara yang lain bisa ditumis sebentar atau ditambahkan sebagai hiasan. Untuk memperkaya rasa, miso paste dapat digunakan sebagai pengganti bumbu instan, atau tambahkan minyak cabai, kecap asin, minyak wijen, mentega, bahkan selembar keju atau selai kacang untuk sentuhan unik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya