Liputan6.com, Jakarta - Profesor Chen Liquan, ilmuwan terkemuka penerima penghargaan sains dan teknologi nasional China, mengejutkan para pelaku industri baterai melalui pidato krusialnya yang kini menjadi sorotan utama di sektor energi.
Mengutip laporan dari laman CarNewsChina, Senin (13/7/2026), pidato tersebut mendesak pemerintah dan industri otomotif untuk segera mempercepat transisi massal ke perangkat keras baterai berbasis sodium-ion.
Advertisement
Desakan ini muncul sebagai respons konkret untuk memutus ketergantungan ekstrem China terhadap impor bahan baku litium dari luar negeri. Saat ini, angka ketergantungan impor litium negara tersebut telah berada di level yang sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai 75 persen.
Menurut Chen Liquan, angka yang terlampau tinggi ini menempatkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan ekosistem penyimpanan energi makro China dalam posisi yang sangat rawan.
Risiko geopolitik, fluktuasi harga komoditas global, hingga potensi gangguan rantai pasok sewaktu-waktu dapat melumpuhkan ambisi elektrifikasi negara tersebut. Sebagai solusinya, ia menunjuk baterai sodium-ion sebagai penyelamat ketahanan energi masa depan.
Inovasi Lokal dan Validasi Komersial
Berbeda dengan litium yang langka dan mahal, sodium-ion memanfaatkan bahan baku yang melimpah ruah dan dapat diekstraksi dengan mudah, sehingga menawarkan stabilitas pasokan yang jauh lebih aman bagi pasar dalam negeri.
Upaya meningkatkan skala produksi sel alternatif ini menuntut adanya pergeseran pada sektor bahan kimia guna menghindari jaringan perdagangan global yang fluktuatif. Saat ini, para pemasok industri tengah mengembangkan proses khusus untuk memproduksi anoda berbahan batu bara lokal guna menggantikan penggunaan grafit sintetis yang harganya relatif mahal. Langkah strategis yang memanfaatkan sumber daya karbon domestik ini terbukti berhasil melindungi margin keuntungan di seluruh segmen kendaraan ekonomis.
Validasi teknologi ini diperkuat oleh pengujian terbaru hasil kolaborasi CATL dan Changan. Kerja sama tersebut sukses menekan biaya produksi hingga 0,051 USD per watt-jam dengan kepadatan energi (energy density) mencapai 175 Wh/kg. Capaian ini sudah mendekati kesetaraan biaya dengan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) tradisional, serta dinilai mumpuni untuk memberi daya pada armada truk pengangkut komersial berat.
Di sisi lain, ekspansi nyata di lapangan diwujudkan oleh Hina Battery yang mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam lini kendaraan aktif dengan mendirikan kantor pusat di Wuhan. Pemasok kakap ini tengah membangun lini perakitan paket baterai sodium-ion berkapasitas 2 GWh untuk melayani operasi transportasi komersial di wilayah sekitarnya, serta menyasar kebutuhan daya bagi sekitar 115.000 kapal kargo yang beroperasi di sepanjang Sungai Yangtze.
Ketahanan Cuaca dan Tantangan Manufaktur
Salah satu keunggulan utama dari konfigurasi baterai sodium-ion besutan Hina Battery terletak pada ketahanan cuacanya yang luar biasa. Sistem ini mampu mempertahankan tingkat retensi kapasitas hingga 90 persen pada suhu ekstrem minus 20 derajat Celsius.
Kendati memiliki masa depan yang cerah, tantangan terbesar yang dihadapi industri saat ini adalah masalah skala ekonomi dan kesiapan lini produksi massal. Secara teknis, baterai sodium-ion saat ini memang masih kalah dalam hal kepadatan energi jika dibandingkan dengan baterai litium tingkat tinggi.
Oleh karena itu, dalam pidatonya Chen Liquan menekankan urgensi pergeseran perangkat keras manufaktur. Produsen baterai didorong untuk mulai memodifikasi dan mengadaptasi lini produksi pabrik mereka agar kompatibel dengan teknologi sodium-ion tanpa harus membangun infrastruktur dari nol.
Melalui dukungan regulasi dan insentif pemerintah yang tepat, transisi perangkat keras ini diharapkan dapat segera memicu adopsi baterai sodium-ion secara massal. Target utamanya mencakup segmen kendaraan listrik kelas entry-level, sepeda motor listrik, hingga proyek sistem penyimpanan energi berskala besar (grid storage).