Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Senin, (13/7/2026). Harga perak Antam hari ini merosot mengikuti harga emas Antam dan perak dunia.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam turun Rp 400 menjadi Rp 40.150. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dibanderol Rp 40.550.
Advertisement
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia anjlok 2,9% menjadi US$ 58,12.
Harga perak turun di bawah US$ 59 per ons pada Senin, memperpanjang kerugian dari minggu lalu karena serangan rudal baru antara AS dan Iran mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu ekspektasi kenaikan suku bunga untuk mengekang inflasi. AS melakukan serangan keempatnya dalam seminggu terhadap Iran pada hari Minggu sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal kontainer berbendera Siprus.
Teheran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup "sampai pemberitahuan lebih lanjut," meskipun klaim tersebut ditolak oleh Komando Pusat AS. Investor juga menunggu data inflasi AS penting yang akan dirilis minggu ini untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan Federal Reserve.
Pasar saat ini memperkirakan Fed memberikan satu kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Sementara itu, Ketua Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh dijadwalkan untuk tampil pertama kalinya di hadapan Kongres AS pada Selasa.
Prediksi Harga Emas Dunia
Sebelumnya, prospek harga emas dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian. Survei mingguan Kitco News menunjukkan analis Wall Street maupun investor ritel di Main Street belum memiliki pandangan yang sama mengenai arah pergerakan logam mulia pada pekan ini.
Perbedaan pendapat itu muncul setelah harga emas gagal keluar dari fase konsolidasi dan masih tertekan oleh penguatan dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam survei yang melibatkan 13 analis Wall Street, dikutip dari Kitco, Senin (13/7/2026), sebanyak lima responden atau 38% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini. Sementara tiga analis atau 23% memprediksi harga emas akan melemah. Adapun lima analis lainnya atau 38% memilih bersikap netral dan memperkirakan harga emas bergerak mendatar.
Hasil yang hampir serupa juga terlihat dari jajak pendapat terhadap investor ritel. Dari 282 responden, sebanyak 117 orang atau 42% memperkirakan harga emas akan naik, sedangkan 108 responden atau 38% memprediksi harga emas turun. Sisanya, 20%, memperkirakan harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi.
Fokus pada Kebijakan Federal Reserve
Menurut Kepala Strategi Mata Uang InvestingLive, Adam Button, prospek emas masih sulit menguat selama konflik di Timur Tengah terus menopang harga minyak.
"Sulit untuk antusias terhadap emas selama konflik di Iran masih berlangsung. Risiko kenaikan harga minyak lebih besar, sehingga justru berpotensi menjadi tekanan bagi emas," katanya.
Sementara itu, analis VR Metals/Resource Letter Mark Leibovit tetap optimistis. Ia memperkirakan harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce dalam beberapa pekan mendatang.
Sejumlah analis pasar memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek meski ketegangan geopolitik masih berlangsung.
Fokus investor kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang dinilai akan menjadi penentu pergerakan logam mulia pada pekan depan.
Analis komoditas senior StoneX Group, Daniel Pavilonis, menilai tren teknikal emas masih lemah. Menurutnya, arus dana mulai beralih ke pasar saham dan sektor teknologi sehingga minat terhadap logam mulia berkurang.
Ia memperkirakan jika harga emas menembus level terendah terbaru, penurunannya dapat berlanjut ke kisaran US$ 3.800 hingga US$ 3.600 per ounce, bahkan tidak menutup kemungkinan bergerak lebih rendah sebelum akhirnya kembali menarik minat beli investor.