Harga Minyak Melambung Setelah AS-Iran Saling Serang

Harga minyak WTI dan Brent kompak naik di atas 3% pada akhir pekan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi harga minyak.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 Juli 2026, 07:45 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada Minggu malam waktu setempat, 12 Juli 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan dalam kembali merebut kendali Selat Hormuz. Selat ini menjadi salah satu jalur perdagangan terpenting untuk pasokan energi global.

Mengutip CNBC, Senin, (13/7/2026), harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) naik 3,4% menjadi US$ 73,87 per barel pada pukul 18.03 WT. Harga minyak Brent menguat 3,5% menjadi US$ 78,67.

Militer AS melancarkan gelombang serangan lain pada Minggu terhadap Iran setelah menghantam 140 target pada Sabtu, menurut Komando Pusat AS. Serangan tersebut sebagai tanggapan atas serangan oleh Korps Garda Revolusi Islam terhadap kapal kontainer yang melintasi Hormuz.

Iran menanggapi pada Minggu dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman, menurut kantor berita negara Tasnim.

Media pemerintah Iran mengatakan Garda Revolusi telah menutup Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut, tetapi militer AS membantah klaim tersebut. Centcom menyatakan selat tersebut terbuka untuk “semua kapal yang ingin melintasinya secara sah.”

"Pasukan AS ditempatkan dan siap untuk memastikan bahwa kebebasan navigasi tetap tersedia meskipun ada agresi, pelecehan, ancaman, dan deklarasi sewenang-wenang Iran yang tidak beralasan,” kata Centcom dalam unggahan media sosial pada Minggu.

"Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Lalu lintas tetap lancar,” demikian seperti dikutip.

Presiden Donald Trump mengatakan, Hormuz terbuka dalam sebuah wawancara dengan “Meet the Press” NBC News yang ditayangkan pada Minggu. Perusahaan intelijen maritim Windward melacak sembilan kapal yang melintasi selat tersebut pada Sabtu.

 

 

Pelaut Diminta Tetap Waspada di Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran. (AP Photo/Asghar Besharati)

Pusat Informasi Maritim Gabungan, koalisi angkatan laut pimpinan AS di Bahrain menuturkan, rute selatan melalui perairan Oman tetap terbuka untuk lalu lintas masuk dan keluar. Pusat informasi itu memberikan pembaruan keamanan kepada kapal-kapal sipil yang melintasi perairan di Timur Tengah.

Namun, situasi keamanan di Hormuz tetap parah, kata pusat informasi  tersebut dalam sebuah pemberitahuan pada Minggu. “Para pelaut harus menunjukkan “kewaspadaan yang ekstrem,” katanya.

Serangan udara akhir pekan lalu merupakan kali keempat AS membom Iran dalam seminggu terakhir sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz di koridor selatan yang dilindungi oleh militer AS. Iran menuntut agar kapal-kapal menggunakan rute utara melalui perairan teritorialnya karena mengklaim kendali atas selat tersebut.

Pertempuran terbaru ini berakar dari perbedaan interpretasi AS dan Iran tentang bagaimana Selat Hormuz seharusnya dibuka kembali berdasarkan kesepakatan perdamaian sementara yang mereka tandatangani pada 17 Juni.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Lalu lintas anjlok setelah Iran mulai menyerang kapal-kapal di selat tersebut pada awal Maret, tetapi transit kembali meningkat setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya