Sering Ditawar Murah? Ini Penyebab Mobil bekas Operasional Perusahaan Kehilangan Nilai Jual

Meski diminati karena dokumen jelas dan servis rutin, nilai mobil operasional kerap jatuh saat negosiasi. Layanan inspeksi hadir jadi solusi.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 13 Juli 2026, 16:17 WIB
Mobil Bermasalah di Jalan, Ini 5 Kerusakan yang Sering Terjadi (ist)

Liputan6.com, Jakarta - Menjual atau meremajakan mobil operasional perusahaan kerap menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Harapan untuk mendapatkan nilai jual terbaik demi menambah kas perusahaan sering kali berujung sebaliknya. Saat bernegosiasi dengan calon pembeli—baik dari showroom maupun perorangan—perusahaan justru berada di posisi yang kurang menguntungkan, sehingga terpaksa menerima penawaran jauh di bawah ekspektasi.

Padahal, mobil eks-operasional perusahaan sebenarnya memiliki daya tarik tinggi di pasar mobil bekas. Berdasarkan survei perilaku konsumen di pasar mobil bekas nasional, sekitar 65 hingga 70 persen calon pembeli, termasuk jaringan dealer, lebih tertarik pada kendaraan eks-perusahaan. Alasannya, legalitas dokumen dinilai lebih jelas, serta riwayat perawatan berkala umumnya lebih disiplin dan konsisten dibandingkan mobil milik pribadi.

Tantangan Depresiasi dan Celah Negosiasi

Meski minat pasar tinggi, potensi ini kerap terkikis oleh depresiasi nilai aset. Mengacu pada analisis industri otomotif dari Deloitte dan PwC, nilai kendaraan operasional dapat turun sekitar 15 hingga 20 persen pada tahun pertama penggunaan. Nilai tersebut kemudian terus menyusut mengikuti Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia, hingga tersisa sekitar 50 persen dari harga awal saat memasuki usia lima tahun.

Kondisi penyusutan ini sering dimanfaatkan calon pembeli untuk menekan harga dengan menyoroti berbagai kekurangan fisik kendaraan, meskipun status legalitasnya clean dan menjadi nilai tambah.

CEO Garasi.id, Ardy Alam, mengungkapkan bahwa banyak perusahaan kehilangan potensi nilai jual hingga puluhan juta rupiah bukan karena kondisi mobil yang buruk, melainkan karena tidak memiliki data objektif untuk membuktikan kondisi kendaraan tersebut.

"Banyak perusahaan sebenarnya kehilangan nilai puluhan juta bukan karena mobilnya jelek, tapi karena mereka tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akhirnya, harga ditekan terus saat negosiasi," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (13/7/2026).

 

4 Komponen yang Paling Sering Jadi Sasaran Tawar

Untuk kendaraan operasional yang telah berusia empat hingga lima tahun, ada empat bagian utama yang paling sering dijadikan celah oleh pembeli untuk menawar harga:

  1. Struktur Bodi dan Tulang Sasis: Diperiksa secara detail untuk mendeteksi indikasi bekas tabrakan melalui keselarasan garis bodi, bekas las, atau ketebalan cat.
  2. Kondisi Transmisi Matik: Komponen ini rentan mengalami penurunan performa akibat sering menghadapi kemacetan. Perpindahan gigi yang terlambat (delay) atau menghentak (jedug) kerap dijadikan alasan meminta potongan harga besar.
  3. Area Kolong dan Kaki-Kaki: Komponen seperti suspensi, tie rod, hingga bushing rawan aus akibat penggunaan intensif. Saat test drive, bunyi-bunyi asing yang muncul sering diklaim sebagai indikasi kerusakan parah.
  4. Mesin dan Rembesan Oli: Masalah rembesan oli tipis atau hasil kompresi mesin sering kali dibesar-besarkan sebagai tanda kerusakan serius yang butuh biaya perbaikan tinggi, padahal kondisinya masih dalam batas wajar.

 

Solusi Inspeksi Independen untuk Transaksi yang Adil

Untuk menghindari praktik negosiasi yang merugikan tersebut, Garasi.id menawarkan layanan inspeksi mobil independen dengan pemeriksaan menyeluruh hingga 170 titik. Laporan inspeksi yang objektif ini dapat menjadi bukti profesional yang membantu perusahaan mempertahankan harga jual sesuai dengan nilai pasar yang realistis.

Transparansi data ini tidak hanya menguntungkan penjual, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pembeli (baik perorangan maupun showroom) sehingga proses transaksi berlangsung lebih adil. Garasi.id menilai layanan inspeksi ini dapat menjadi solusi cerdas bagi perusahaan yang ingin meremajakan armada, maupun bagi pemilik kendaraan pribadi agar aset mereka tidak kehilangan nilai hanya karena minimnya data pendukung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya