Program B50 Jalan, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta Kiloliter

Pertamina memastikan infrastruktur dan distribusi siap mendukung Program Mandatori Biodiesel B50 tanpa mengganggu pasokan energi nasional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Juli 2026, 16:08 WIB
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan PT Pertamina Patra Niaga menjalankan penugasan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. (Dok Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menjalankan penugasan pemerintah dalam implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 yang resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, penerapan Biodiesel B50 menjadi tonggak penting dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tersebut juga sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada kemandirian energi dan optimalisasi potensi domestik.

"Program Mandatori B50 akan memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi nasional melalui pengurangan impor solar yang diproyeksikan mencapai sekitar 18 juta kiloliter pada tahun 2026 atau setara sekitar 310 ribu barel per hari. Pertamina berkomitmen mendukung keberhasilan program strategis ini sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi Indonesia," ujar Simon dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7/2026).

Sebagai badan usaha yang mendapat penugasan pemerintah dalam penyediaan dan distribusi bahan bakar minyak, Pertamina memastikan kesiapan infrastruktur, sistem distribusi, serta rantai pasok biodiesel agar implementasi B50 berjalan lancar tanpa mengganggu pasokan energi bagi masyarakat.

 

Pertamina Andalkan Pengalaman dari Program B20 hingga B40

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan PT Pertamina Patra Niaga menjalankan penugasan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. (Dok Pertamina)

Pertamina menilai pengalaman panjang dalam menjalankan program biodiesel menjadi modal utama untuk menyukseskan implementasi B50. Sebelumnya, perusahaan telah mendukung pelaksanaan mandatori biodiesel mulai dari B20, B30, B35, hingga B40.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan seluruh aspek operasional telah dipersiapkan agar proses transisi menuju B50 berjalan optimal.

"Pertamina bersama Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan seluruh aspek operasional, mulai dari infrastruktur, distribusi, hingga koordinasi dengan Pemerintah dan para pemangku kepentingan. Kami juga memastikan kualitas Biosolar B50 yang disalurkan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan Pemerintah sehingga masyarakat dapat memperoleh produk dengan mutu yang tetap terjaga," ujar Baron.

Menurutnya, kesiapan tersebut mencakup fasilitas penyimpanan, jaringan distribusi, hingga koordinasi dengan berbagai pihak agar penyaluran Biosolar B50 berlangsung sesuai ketentuan pemerintah.

 

Masa Transisi B50 Berlangsung hingga September 2026

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan PT Pertamina Patra Niaga menjalankan penugasan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. (Dok Pertamina)

Dalam implementasi Program Mandatori Biodiesel B50, Pertamina Group bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan telah menjalani berbagai tahapan pengujian. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas, kualitas produk, serta kelancaran distribusi Biosolar B50 di berbagai daerah.

Sesuai ketentuan pemerintah, penerapan Program Mandatori B50 akan memasuki masa transisi hingga 30 September 2026. Selama periode tersebut, penyaluran Biosolar dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari proses peralihan dari B40 menuju B50.

Pertamina menegaskan penyesuaian distribusi akan dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keandalan pasokan energi nasional. Langkah ini diharapkan dapat memastikan masyarakat tetap memperoleh bahan bakar sesuai kebutuhan selama proses transisi berlangsung.

Melalui implementasi Biodiesel B50, pemerintah menargetkan penguatan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Di sisi lain, program ini juga menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan meningkatkan pemanfaatan energi baru berbasis sumber daya domestik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya