Mengenang Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sang Arsitek Qatar Modern

Di bawah Sheikh Hamad, gas alam, media, dan diplomasi menjadi tiga instrumen utama yang mengangkat posisi Qatar di panggung dunia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 12 Juli 2026, 13:59 WIB
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani dan Barack Obama saat bertemu di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada 23 April 2013. (Dok. AP/Pablo Martinez Monsivais)

Liputan6.com, Doha - Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan emir yang memimpin transformasi Qatar selama hampir dua dekade, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026). Ia berusia 74 tahun.

Kabar wafatnya diumumkan oleh Amiri Diwan, kantor administratif dan pusat pemerintahan resmi Emir Qatar. Dalam pernyataan resminya, lembaga tersebut menyampaikan duka cita mendalam dan menyebut wafatnya almarhum sebagai kehilangan besar bagi bangsa.

Di bawah kepemimpinannya, Qatar berkembang dari negara kecil di kawasan Teluk menjadi salah satu negara terkaya di dunia dengan pengaruh yang semakin besar di tingkat regional dan internasional.

Produk domestik bruto negara itu meningkat lebih dari 24 kali lipat selama masa pemerintahannya, sementara PDB per kapita tumbuh sekitar enam kali lipat.

Dari Militer ke Pucuk Kekuasaan

Sheikh Hamad lahir di Doha pada Januari 1952. Setelah menyelesaikan pendidikan di Qatar, ia menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, Inggris, dan lulus pada 1971.

Ia kemudian bergabung dengan angkatan bersenjata Qatar hingga mencapai pangkat mayor jenderal. Pada 31 Mei 1977, Sheikh Hamad ditunjuk sebagai putra mahkota sekaligus menteri pertahanan.

Kariernya berlanjut dengan penunjukan sebagai ketua Dewan Tertinggi Perencanaan pada 10 Mei 1989. Lembaga tersebut bertugas merumuskan kebijakan sosial dan ekonomi Qatar.

Sheikh Hamad mengambil alih kekuasaan sebagai emir pada 27 Juni 1995. Sejak awal pemerintahannya, ia mendorong pembangunan ekonomi serta pembaruan sosial dan kelembagaan.

Transformasi ekonomi Qatar ditopang oleh pengembangan cadangan gas raksasa North Field. Ekspor gas alam cair atau LNG dari ladang tersebut dimulai pada 1996 dan mendorong peningkatan pesat pendapatan negara.

Pada 2006, Qatar menjadi pengekspor LNG terbesar di dunia. Empat tahun kemudian, kapasitas produksi LNG negara itu mencapai 77 juta ton per tahun.

Pendapatan dari sektor energi digunakan untuk membiayai pembangunan di berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, olahraga, kebudayaan, media, dan infrastruktur. Kekayaan gas tidak hanya memperbesar skala perekonomian Qatar, tetapi turut menopang pembentukan berbagai institusi modern.

Salah satu keputusan awal Sheikh Hamad adalah mendirikan Qatar Foundation for Education, Science and Community Development pada Agustus 1995. Lembaga itu dibentuk untuk mendukung pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Pemerintahannya juga membawa perubahan besar pada sektor media. Sensor terhadap pers lokal dicabut pada Oktober 1995, disusul peluncuran saluran berita Al Jazeera pada 1996 dan pembubaran kementerian informasi pada 1998.

Al Jazeera kemudian menjadi salah satu sarana utama Qatar untuk memperluas jangkauannya di dunia Arab dan internasional. Dalam pidato pada peringatan 20 tahun jaringan tersebut, Sheikh Hamad mengatakan Qatar ingin menghadirkan media Arab yang memungkinkan masyarakat di kawasan melihat dunia dari sudut pandang mereka sendiri.

Reformasi Politik, Diplomasi, dan Suksesi

Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani menyaksikan laga perdana Piala Asia 2011 antara Qatar dan Uzbekistan di Khalifa Stadium, Doha, 7 Januari 2011. Qatar kalah 0-2. AFP PHOTO / STR

Di bidang politik, Sheikh Hamad mulai memperkenalkan sejumlah bentuk partisipasi publik. Qatar menggelar pemilihan Kamar Dagang dan Industri pada 1996, kemudian menyelenggarakan pemilihan Dewan Kota Pusat pada Maret 1999.

Dalam pemilihan tingkat kota tersebut, perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah Qatar memperoleh hak untuk memilih dan mencalonkan diri.

Sheikh Hamad memprakarsai penyusunan konstitusi permanen pertama Qatar. Sebuah komite penyusun dibentuk melalui dekret pada 1999 sebelum rancangan konstitusi disetujui melalui referendum pada 29 April 2003 dengan dukungan 96,6 persen suara.

Konstitusi permanen itu ditetapkan pada 8 Juni 2004. Dokumen tersebut mengatur landasan kehidupan bernegara, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, hak dan kebebasan warga, serta pembagian kewenangan antarlembaga negara.

Qatar kemudian menyusun Visi Nasional Qatar 2030. Rencana jangka panjang itu mulai dipersiapkan pada 2007 dan disahkan setahun kemudian sebagai pedoman untuk membangun ekonomi berbasis pengetahuan, mewujudkan pembangunan berkelanjutan, dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.

Peran Qatar di tingkat internasional turut berkembang melalui diplomasi dan mediasi konflik. Doha menjadi tempat perundingan yang menghasilkan kesepakatan rekonsiliasi Lebanon pada 2008 dan Dokumen Doha untuk Perdamaian di Darfur pada 2011.

Qatar menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2006–2007.

Ambisi untuk tampil di panggung dunia turut diwujudkan melalui olahraga. Pada 2010, Qatar memperoleh hak menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, menjadikannya negara Arab dan negara Timur Tengah pertama yang terpilih menggelar turnamen tersebut.

Pada 25 Juni 2013, Sheikh Hamad menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang ketika itu berusia 33 tahun. Sejak meninggalkan jabatan emir, ia menyandang gelar Amir Ayah.

Dalam pidato pengalihan kekuasaan, Sheikh Hamad mengatakan sudah waktunya bagi generasi baru untuk memikul tanggung jawab dengan kemampuan, gagasan, dan semangat zamannya.

"Masa depan terbentang di hadapan kalian, anak-anak negeri ini, saat kalian memasuki era baru ketika generasi muda mengambil alih kepemimpinan," kata Sheikh Hamad seperti dilaporkan Al Jazeera.

Pidato dan penyerahan kekuasaan tersebut menutup masa pemerintahan Sheikh Hamad yang berlangsung selama 18 tahun. Warisannya terlihat pada kekuatan ekonomi berbasis gas, lembaga-lembaga modern, serta posisi Qatar yang semakin menonjol dalam diplomasi, media, pendidikan, dan olahraga internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya