Liputan6.com, Jakarta - Argentina kembali menjaga asa mempertahankan gelar Piala Dunia setelah mengalahkan Swiss 3-1 melalui babak perpanjangan waktu pada perempat final di Kansas City Stadium. Hasil tersebut mengantar La Albiceleste menuju semifinal untuk menghadapi rival lamanya, Inggris.
Pertemuan ini menghadirkan salah satu laga paling dinanti di Piala Dunia 2026. Kedua tim sama-sama memiliki sejarah panjang, kualitas pemain kelas dunia, dan ambisi besar mencapai partai puncak.
Advertisement
Argentina melangkah dengan modal sebagai juara bertahan, sedangkan Inggris datang membawa performa yang terus meningkat sepanjang turnamen. Duel klasik di Atlanta Stadium pada Kamis, 16 Juli, pukul 02.00 WIB, akan menjadi arena duel dua rival dalam perebutan satu tiket menuju final.
Argentina Lolos Lewat Pertandingan Berat
Swiss memberikan perlawanan sengit sejak awal pertandingan dan membuat Argentina kesulitan mengembangkan permainan. Tim asuhan Lionel Scaloni baru memastikan kemenangan pada babak tambahan waktu dengan skor 3-1.
Scaloni mengakui anak asuhnya belum tampil dalam performa terbaik meski berhasil mengamankan tiket semifinal. Ia menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum menghadapi Inggris.
"Kenyataannya kami menderita hari ini. Kami tahu mereka adalah tim yang sangat kuat secara fisik. Mereka benar-benar membuat kami berada dalam banyak kesulitan. Kami tidak mampu keluar dari beberapa situasi. Kenyataannya keberuntungan berpihak kepada kami hari ini karena mereka kehilangan satu pemain akibat kartu merah dan sejak saat itu tim mulai menyerang. Kami harus realistis, masih ada yang perlu kami perbaiki, tetapi menang selalu lebih baik. Meski kami bisa bermain lebih baik, kembali berada di semifinal adalah sesuatu yang bersejarah."
Inggris Berbekal Kepercayaan Diri Tinggi
Inggris melangkah ke semifinal setelah menumbangkan Norwegia 2-1 pada babak perempat final. Tim asuhan Thomas Tuchel kembali menunjukkan mental kuat dengan membalikkan keadaan melalui dua gol Jude Bellingham.
Perjalanan The Three Lions juga tidak mudah sepanjang fase gugur. Mereka lebih dulu bangkit saat menghadapi RD Kongo, kemudian menyingkirkan tuan rumah Meksiko meski bermain dengan sepuluh orang.
Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi mesin gol utama Inggris sepanjang turnamen. Keduanya sama-sama telah mengoleksi enam gol dari enam pertandingan, sementara Bukayo Saka dan Anthony Gordon konsisten memberikan kreativitas dari sektor sayap.