Hengkang dari OPEC, Produksi Minyak Uni Emirat Arab Pecah Rekor

Bebas dari aturan OPEC, UEA genjot produksi minyak mentah hingga cetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah memanasnya konflik Teluk.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 11 Juli 2026, 12:43 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Produksi minyak mentah di Uni Emirat Arab (UEA) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Juni lalu. Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA), Abu Dhabi bergerak jauh lebih agresif dibanding produsen Teluk lainnya untuk memulihkan pasokan minyak yang sempat terganggu akibat perang Iran.

Dalam laporan pasar minyak bulanannya, IEA mencatat bahwa UEA memproduksi rata-rata 4,1 juta barel per hari (bph) bulan lalu. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 4 juta bph yang sempat dicapai saat perang harga minyak singkat antara Arab Saudi dan Rusia pada tahun 2020.

Mengutip laman Anadolu, Sabtu (11/7/2026), lonjakan produksi ini terjadi setelah UEA resmi keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada akhir April lalu. Keputusan tersebut membuat UEA bebas menjalankan rencana ekspansi produksinya tanpa perlu terikat lagi oleh batasan kuota dari OPEC.

Untuk mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia, UEA mengerahkan armada tanker milik mereka sendiri serta menyewa kapal tambahan, termasuk kapal-kapal yang dioperasikan oleh Sinokor Group asal Korea Selatan. Beberapa kapal bahkan dilaporkan berlayar dengan mematikan transponder Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) mereka, sehingga pergerakannya menjadi lebih sulit untuk dilacak.

Efek Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas

Ilustrasi Tambang Minyak (Liputan6.com/M.Iqbal)

Pemulihan produksi UEA ini sebenarnya terjadi sebelum adanya serangan baru terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz minggu ini, yang kembali mengganggu lalu lintas di jalur pelayaran strategis tersebut.

Awalnya, pulihnya pasokan minyak di kawasan Teluk, ditambah dengan adanya kerangka kerja gencatan senjata antara AS dan Iran sebelumnya, sempat meredakan kekhawatiran pasar akan kelangkaan pasokan. Kondisi ini bahkan memicu tanda-tanda kelebihan pasokan (oversupply) di beberapa pasar, sekaligus memangkas sebagian besar kenaikan harga minyak mentah yang sempat melonjak akibat perang.

Namun, tensi kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut berakhir menyusul adanya serangan balasan yang kembali terjadi. Pasukan AS menggempur beberapa wilayah di Iran selama dua hari berturut-turut, sementara Teheran melancarkan serangan balasan ke Bahrain dan Kuwait.

Akibat ketegangan ini, harga minyak mentah Brent sempat melonjak di atas US$ 80 per barel awal pekan ini, sebelum akhirnya turun ke kisaran US$ 76 pada hari Jumat.

Kondisi Produsen Minyak Lainnya

Beberapa produsen minyak utama lainnya di kawasan Teluk sebenarnya juga ikut menggenjot produksi mereka pada bulan Juni, meskipun jumlahnya masih di bawah level sebelum konflik terjadi.

Berdasarkan data IEA, Arab Saudi memproduksi 7,3 juta bph, alias naik sekitar 900.000 bph dibanding bulan Mei. Sementara itu, produksi minyak Kuwait naik ke angka rata-rata 1,4 juta bph, dan Irak meningkat menjadi 2 juta bph.

Meskipun produksi dan ekspor minyak mentah mulai pulih, operasional kilang minyak di kawasan Teluk terpantau berjalan lebih lambat. IEA menyebutkan bahwa ekspor produk minyak olahan (kilang) saat ini masih tertahan di angka kurang dari separuh tingkat produksi mereka sebelum perang pecah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya