Liputan6.com, Jakarta - Raksasa otomotif asal China, BYD, kembali membuat gebrakan besar yang mengguncang industri global. Bukan lagi soal peluncuran mobil listrik (EV) terbaru, melainkan keberhasilan mereka mengamankan kontrak mega-proyek infrastruktur energi yang mencetak sejarah baru.
Dilansir dari laman resmi CarNewsChina, Senin (13/7/2026), melalui divisi teknologi baterainya, BYD resmi menyepakati kerja sama dengan perusahaan energi asal Uni Emirat Arab (UEA), Masdar. Kerja sama ini bertujuan untuk memasok sistem penyimpanan energi berskala besar dengan kapasitas fantastis mencapai 11,275 GWh.
Advertisement
Jika dikonversikan ke dalam industri otomotif, pasokan baterai raksasa ini setara dengan daya yang dibutuhkan untuk memproduksi lebih dari 186.000 unit mobil listrik penumpang. Langkah strategis ini mempertegas bahwa teknologi baterai asal China memiliki kualitas mumpuni dan diakui oleh dunia.
Dominasi Tiongkok di Timur Tengah
Proyek ambisius ini akan ditempatkan di situs Round The Clock di Abu Dhabi guna menopang pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 5,2 GW. Tujuannya adalah menjaga pasokan listrik bersih tetap stabil dan mengalir tanpa henti selama 24 jam penuh.
Untuk meregulasi daya sebesar itu, Abu Dhabi membutuhkan total kapasitas penyimpanan energi hingga 19 GWh. Di sinilah strategi BYD dan sinergi korporasi Tiongkok terbukti mematikan bagi kompetitor global.
Sebelum BYD mengamankan sisa alokasi sebesar 11,275 GWh ini, perusahaan asal Tiongkok lainnya, Sungrow, telah lebih dulu mengunci kontrak fase awal sebesar 7,5 GWh. Kolaborasi tidak langsung dari dua raksasa ini sukses mendepak dan menutup ruang bagi para pesaing internasional dari proyek energi bersih tersebut.
Fenomena ini menandakan ketergantungan wilayah Timur Tengah yang kian tinggi terhadap perangkat keras buatan China untuk menstabilkan jaringan listrik mereka.
Monster Teknologi "BYD Haohan"
Dari sisi teknis, proyek ini tidak lagi menggunakan format baterai konsumen skala kecil biasa. BYD memperkenalkan konfigurasi sistem modular teranyar yang dinamakan BYD Haohan.
Sistem ini mengadopsi basis teknologi sel baterai mobil penumpang yang ditingkatkan secara ekstrem menjadi versi khusus 2710Ah. Kapasitas per selnya melonjak hingga lebih dari 300 persen jika dibandingkan dengan setup lawas.
Peningkatan volume fisik per sel ini membawa dampak positif yang sangat masif:
- Minimalisir Koneksi: Jumlah sambungan mekanis internal berkurang drastis.
- Pangkas Kompleksitas: Tim insinyur mampu memangkas kompleksitas desain Battery Management System (BMS) hingga 70 sampai 80 persen.
- Efisiensi Ruang: Berkat optimalisasi struktural tersebut, BYD sukses memadatkan kapasitas penyimpanan hingga 10 MWh hanya ke dalam satu wadah kontainer standar ukuran 20 kaki. Teknologi ini sangat menghemat ruang lantai pada area stasiun pengisi daya.
Sinergi Lintas Sektor dan Perang Harga
Ekspansi BYD pada sektor energi ini berjalan beriringan dengan target mereka untuk membangun benteng pertahanan yang kuat di sektor penyimpanan energi statis. Tidak main-main, BYD menargetkan pemangkasan biaya manufaktur hingga menyentuh angka 0,3 yuan (sekitar Rp650 hingga Rp800-an) per watt-hour.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, BYD memanfaatkan jalur pengadaan bahan baku yang terintegrasi langsung dengan divisi otomotif mereka. Dengan integrasi ini, BYD mampu menekan biaya produksi di seluruh lini perakitan secara signifikan. Sinergi lintas sektor ini memastikan proyek industri padat modal dapat menikmati efisiensi biaya yang diadopsi langsung dari metode produksi massal baterai mobil listrik mereka.
Tantangan Terbuka untuk CATL
Langkah masif di Timur Tengah ini sekaligus menjadi tantangan terbuka bagi rival abadi mereka di industri baterai, CATL. Sebelumnya, CATL sangat mengandalkan sistem penyimpanan energi komersial mereka yang bernama Tener untuk menguasai proyek-proyek makro global.
Keberhasilan pengadaan lokal di Abu Dhabi ini menjadi bukti nyata bahwa pabrikan mobil listrik kini mampu memanfaatkan skala produksi sel baterai mereka untuk merebut pasar infrastruktur internasional. Strategi ini diprediksi akan mengubah total peta persaingan energi masa depan secara global.