Eropa Barat Cetak Rekor Terpanas Sepanjang Sejarah

Gelombang panas ekstrem menghantam Eropa Barat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 11 Juli 2026, 15:15 WIB
Gelombang panas ekstrem kembali menghantam Eropa Barat. Kawasan ini bahkan mencatat cuaca terpanas sepanjang sejarah pengamatan pada Juni lalu. (Tiziana FABI/AFP)

Liputan6.com, Bedarieux - Gelombang panas ekstrem kembali menghantam Eropa Barat. Kawasan ini bahkan mencatat cuaca terpanas sepanjang sejarah pengamatan pada Juni lalu.

Hal ini memicu kebakaran hutan berskala besar, memecahkan rekor suhu di sejumlah kota, hingga menelan korban jiwa. Para ilmuwan memperingatkan, fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa dampak perubahan iklim kini semakin sulit dihindari.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu (11/7/2026), layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan suhu udara permukaan di Eropa Barat selama Juni berada 3,06 derajat Celsius di atas rata-rata beberapa dekade terakhir. Kenaikan suhu tersebut diperparah oleh polusi karbon yang terus mendorong meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas.

Dalam enam pekan terakhir, Eropa Barat telah mengalami tiga gelombang panas berturut-turut. Cuaca yang semakin kering membuat titik-titik api kecil dengan cepat berubah menjadi kebakaran hutan besar yang sulit dikendalikan.

Copernicus menyebut rangkaian gelombang panas ini mencerminkan tantangan baru yang harus dihadapi kawasan tersebut akibat semakin ekstremnya kondisi iklim.

Dampaknya kini terasa di berbagai negara. Kebakaran hutan meluas di Prancis, Spanyol, dan sejumlah wilayah Eropa Selatan hingga memaksa Uni Eropa mengerahkan tambahan petugas pemadam kebakaran serta pesawat pengebom air untuk membantu negara-negara yang kewalahan menghadapi banyak titik api secara bersamaan.

Data terbaru menunjukkan luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan di Uni Eropa tahun ini telah mencapai 56 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata pada periode yang sama.

Berdasarkan data Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa (European Forest Fire Information System/EFFIS), sekitar 35.400 hektare lahan di Prancis telah hangus terbakar atau empat kali lebih luas dibandingkan rata-rata tahunan. Di Spanyol, kebakaran telah melalap sekitar 55.128 hektare lahan, dua kali lipat dari kondisi normal.

Cuaca panas ekstrem juga memecahkan rekor suhu di berbagai kota. Barcelona mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah sebesar 40,5 derajat Celsius pada Rabu.

Sementara di Prancis, seorang petugas pemadam kebakaran berusia 22 tahun meninggal dunia setelah terlibat dalam upaya memadamkan kobaran api di kawasan Pegunungan Alpen.

 

 

Inggris Masuki Gelombang Panas Ketiga

Gelombang panas ekstrem kembali menghantam Eropa Barat. Kawasan ini bahkan mencatat cuaca terpanas sepanjang sejarah pengamatan pada Juni lalu. (AP Photo/Martin Meissner)

Di Inggris, gelombang panas juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) menyatakan negara itu kini memasuki gelombang panas ketiga sepanjang tahun 2026.

Suhu udara diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius pada Kamis dan diprediksi bertahan selama sekitar 10 hari ke depan.

Selain suhu siang yang tinggi, Met Office menyoroti meningkatnya suhu pada malam hari. Fenomena yang dikenal sebagai tropical nights membuat suhu minimum rata-rata pada Juni menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Akibatnya, masyarakat mulai merasakan dampak langsung terhadap kesehatan. Sebuah survei yang dirilis Selasa menunjukkan dua dari tiga warga Inggris mengaku mengalami gangguan tidur akibat suhu malam yang tetap tinggi.

"Melihat suhu seperti ini terjadi di Inggris pada bulan Juni benar-benar mengkhawatirkan. Peristiwa seperti ini menunjukkan dampak nyata perubahan iklim," ujar Kepala Ilmuwan Met Office, Stephen Belcher.

Dewan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Nasional Inggris (National Fire Chiefs Council/NFCC) juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena cuaca panas membuat risiko kebakaran hutan meningkat drastis.

Dalam beberapa pekan terakhir, petugas pemadam telah menangani sejumlah kebakaran hutan di wilayah selatan dan timur Inggris.

"Sebagian besar kebakaran hutan sebenarnya dipicu oleh aktivitas manusia, mulai dari pemanggang sekali pakai yang ditinggalkan, puntung rokok yang dibuang sembarangan, hingga botol kaca yang terpapar sinar matahari. Semua orang memiliki peran untuk mencegahnya," kata Penasihat Taktis NFCC, Dave Swallow.

 

200 Ribu Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas di Eropa

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 200 ribu orang meninggal akibat cuaca panas di Eropa dalam empat tahun terakhir. Menurut WHO, sebagian besar kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui langkah mitigasi yang lebih baik.

Para ahli merekomendasikan pemasangan pendingin ruangan bagi kelompok rentan, penyediaan pusat pendinginan masyarakat, penggunaan peneduh pada bangunan, hingga penguatan sistem layanan kesehatan untuk menghadapi cuaca ekstrem.

Di sisi lain, penghijauan kota dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang yang efektif. Pohon-pohon di kawasan perkotaan mampu menurunkan suhu lingkungan secara signifikan saat gelombang panas melanda.

Namun, analisis Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) menunjukkan Inggris masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Rata-rata kawasan perkotaan di Inggris hanya memiliki tutupan pohon sekitar 18 persen, jauh di bawah rata-rata kota-kota Eropa yang mencapai 30 persen.

Dari 47 kota yang dianalisis, sebanyak 45 kota memiliki tutupan pohon di bawah rata-rata Eropa. London memiliki tutupan pohon sekitar 18 persen, Burnley menjadi kota dengan tingkat penghijauan terendah yakni 11 persen, sedangkan Guildford tertinggi dengan 37 persen.

Sebagai perbandingan, Barcelona memiliki tutupan pohon sekitar 31 persen, sementara Nice mencapai 39 persen.

"Penanaman pohon dapat membantu menurunkan suhu bangunan, sekaligus memberi ruang yang lebih aman bagi masyarakat untuk tetap beraktivitas saat cuaca panas. Sayangnya, Inggris masih tertinggal jauh dalam hal ini," ujar analis ECIU, Tom Cantillon.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya