Rupiah Menguat ke 18.065 per Dolar AS, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Nilai tukar rupiah menguat 63 poin pada penutupan perdagangan Jumat. Pelaku pasar kini menanti rilis inflasi inti Amerika Serikat pekan depan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 Juli 2026, 17:41 WIB
Petugas valas menghitung mata uang dolar AS di DolarAsia Valas di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten. Penutupan perdagangan hari ini, rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi 18.065 per dolar AS. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Penguatan mata uang Garuda didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat serta komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Pada penutupan perdagangan, rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi 18.065 per dolar AS dari posisi sebelumnya 18.128 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat menjadi 18.069 per dolar AS dari sebelumnya 18.090 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan fundamental rupiah masih cukup kuat karena ditopang cadangan devisa yang memadai.

"Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat," katanya dikutip dari Antara.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$ 145,6 miliar, meningkat dibandingkan akhir Mei 2026 yang sebesar US$ 144,9 miliar.

Menurut Amru, kondisi tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk tetap stabil meski tekanan eksternal masih membayangi.

 

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Rupiah Pekan Depan

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meski berpeluang melanjutkan penguatan, pergerakan rupiah pada pekan depan diperkirakan masih dibayangi sejumlah sentimen global, terutama rilis data inflasi inti atau Core Consumer Price Index (Core CPI) Amerika Serikat.

Menurut Amru, data tersebut akan menjadi salah satu acuan utama bagi pelaku pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

"Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pekan depan adalah rilis data Core CPI Amerika Serikat. Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah," ungkap Amru.

Sebaliknya, apabila inflasi inti AS lebih rendah dari ekspektasi pasar, dolar AS berpotensi melemah sehingga membuka peluang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan.

Selain data ekonomi AS, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia serta minat investor terhadap aset safe haven. Arus modal asing dan langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia juga diperkirakan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran 18.000 per dolar AS hingga 18.128 per dolar AS selama sepekan ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya