Bali Mau Bangun Pembangkit Listrik dari Arus Laut

Pemprov Bali mulai mengkaji pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Nusa Penida dengan potensi listrik mencapai 376,8 MW.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 Juli 2026, 16:00 WIB
Gubernur Bali I Wayan Koster setelah menghadiri acara dialog peneliti BRIN di Tabanan, Bali, Senin (7/8/2023). (Putu Merta/Liputan6.com).

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mulai membahas pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di kawasan Selat Nusa Penida sebagai salah satu upaya mempercepat kemandirian energi berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Kajian awal menunjukkan kawasan tersebut memiliki potensi menghasilkan listrik hingga 376,8 megawatt (MW), sehingga dinilai mampu mendukung kebutuhan energi Pulau Dewata sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan listrik dari luar daerah.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, potensi energi arus laut tersebut perlu dimanfaatkan sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat Bali.

“Saya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan, ternyata kita memiliki potensi besar, ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,” kata Wayan Koster dikutip dari Antara, Jumat (10/7/2026).

Pembahasan mengenai PLTAL dilakukan dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan.

Gagasan tersebut dikembangkan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui kajian yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah koordinasi Prof Dwi Susanto dari Maryland University, Amerika Serikat.

Menurut Koster, Bali perlu mempercepat upaya menuju kemandirian energi karena hingga kini masih bergantung pada pasokan listrik dari luar provinsi. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengingat Bali merupakan salah satu destinasi wisata dunia dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat setiap tahun.

“Bali harus mandiri energi dengan memanfaatkan energi bersih dan terbarukan,” ucapnya.

 

Bali Masih Bergantung pada Pasokan Listrik dari Jawa

Pantai Atuh, Nusa Penida, Bali. (Liputan6.com/Putu Elmira)

Saat ini, kebutuhan listrik di Bali berkisar antara 1.300 MW hingga 1.400 MW. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 MW masih dipasok melalui jaringan kabel bawah laut yang terhubung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Jawa Timur.

Karena itu, Pemprov Bali terus mendorong berbagai program untuk mewujudkan visi Bali Mandiri Energi sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempercepat pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap secara masif di gedung pemerintahan, bangunan komersial, hotel, hingga kawasan industri.

Selain itu, pemerintah daerah juga mengembangkan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Program tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengatasi persoalan sampah perkotaan, tetapi juga meningkatkan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi listrik di Pulau Dewata.

Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan turut mendukung pengembangan energi laut sebagai sumber listrik masa depan. Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP Kartika Listriana berharap implementasi PLTAL di Bali dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

 

Potensi Energi Arus Laut Nusa Penida Dinilai Sangat Besar

Koordinator kajian, Prof Dwi Susanto dari Maryland University, menjelaskan Indonesia memiliki banyak selat dengan potensi energi arus laut yang besar. Salah satu kawasan yang dinilai paling menjanjikan berada di sekitar Nusa Penida, Bali.

Berdasarkan hasil kajian, tiga selat di kawasan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan energi listrik hingga 376,8 MW melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut.

“Lebih dari cukup untuk menjadikan Nusa Penida mandiri energi, walaupun pembangunannya akan bersifat modular menyesuaikan dengan kebutuhan,” tuturnya.

Sistem pembangunan secara modular memungkinkan kapasitas pembangkit ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan konsumsi listrik di wilayah tersebut.

Apabila pengembangan PLTAL berhasil direalisasikan, Bali tidak hanya berpeluang memperkuat ketahanan energi daerah, tetapi juga memperbesar pemanfaatan energi bersih. Langkah ini sekaligus mendukung target transisi energi nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya