Harga Emas Melambung 1% Tersengat Aksi Beli

Aksi beli setelah harga emas menyentuh level terendah mempengaruhi pergerakan harga emas.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 Juli 2026, 07:20 WIB
Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada Kamis, 9 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Kenaikan harga emas dunia didorong aksi beli setelah harga emas jatuh ke level terendah dalam sepekan. Sementara itu, investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Jumat, (10/7/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.122,15 per ons, setelah turun ke level terendah sejak 1 Juli 2026. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Agustus naik 1,3% menjadi US$ 4.134,10.

"Ada beberapa aksi beli, harga murah yang terjadi setelah penurunan kemarin. Dalam jangka pendek, pendorong utama untuk emas adalah the Federal Reserve (the Fed),” ujar Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn dikutip dari CNBC.

Jika The Fed mengambil pendekatan lebih lunak terhadap suku bunga, emas dan perak kemungkinan bergerak lebih tinggi. “Dan sebaliknya, jika memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, kedua logam itu kemungkinan akan berada di bawah tekanan,” Haberkorn menambahkan.

Di bidang geopolitik, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk yang berdekatan menyusul serangan AS di provinsi pesisir Selatan dan timur Iran, yang memberikan tekanan pada perjanjian gencatan senjata yang baru berusia tiga minggu.

Harga energi yang lebih tinggi akibat perang dapat memicu tekanan inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral. Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani logam yang tidak menghasilkan imbal hasil ini dengan meningkatkan daya tarik aset yang menghasilkan bunga.

Para pedagang memperkirakan sekitar 64% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, menurut CME FedWatch Tool.

 

 

Investor Pantau Data Ekonomi

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Risalah dari pertemuan Federal Reserve pada Juni menunjukkan meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi, dengan sejumlah pembuat kebijakan melihat alasan untuk menaikkan suku bunga sebelum bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap.

Sementara itu, investor akan memantau dengan cermat data inflasi minggu depan dan kesaksian Ketua Fed Kevin Warsh di Kongres untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter.

Dalam catatan pada Kamis, HSBC memangkas perkiraan harga emas rata-rata untuk 2026 dan 2027 menjadi US$ 4.560 dan US$ 4.925, masing-masing, dari US$ 4.864 dan US$ 5.000.

Di antara logam lainnya, harga perak spot naik 2,3% menjadi US$ 60,00 per ons, platinum naik 3% menjadi US$ 1.625,83 dan paladium naik 3,3% menjadi US$ 1.254,28.

Harga Emas Dunia Terkoreksi usai Trump Akhiri Kesepakatan dengan Iran

Ilustrasi harga emas hari ini (dok: Foto AI)

Sebelumnya, harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,9% menjadi US$ 4.068,09 per ounce setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS dirilis. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 2 Juli.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,5% ke level US$ 4.095,30 per ounce.

"Faktor utama yang menggerakkan pasar hari ini adalah meningkatnya eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi berakhirnya gencatan senjata, kami melihat hampir seluruh aset berisiko diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Ketegangan kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas aksi militer AS yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Situasi tersebut langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%, memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya