Liputan6.com, Teheran - Kepala perunding Iran menyatakan pada Kamis (9/7/2026) bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pihak Iran. Ketegangan ini memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) terlibat aksi saling berbalas serangan militer.
"AS masih belum memahami bahwa intimidasi dan pengingkaran janji kini tidak lagi bisa dilakukan tanpa konsekuensi," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga ketua Parlemen Iran, dalam unggahannya di platform X.
Advertisement
"Saya tegaskan: Jika kalian menyerang, kalian akan diserang," lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah dibuka di bawah ancaman atau tekanan militer dari pihak AS.
Pernyataan keras Ghalibaf ini muncul beberapa jam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan selesainya operasi militer tambahan yang menggempur wilayah Iran.
Rangkaian serangan udara AS tersebut berlangsung dalam dua gelombang utama dalam kurun waktu 48 jam terakhir, dimulai dari serangan pertama pada Rabu dini hari yang menghantam lebih dari 80 target militer sebagai respons atas insiden diserangnya tiga kapal komersial internasional di Selat Hormuz. Tak lama kemudian, militer AS meluncurkan serangan kedua pada Rabu malam yang menyasar sekitar 90 target di sepanjang pantai selatan Iran, di mana CENTCOM menghantam sistem pertahanan udara, gudang rudal dan drone, serta infrastruktur logistik vital termasuk objek penting di Bushehr, Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik.