Liputan6.com, Jakarta - Salah satu perawatan motor yang kerap terlupakan adalah mengganti cairan pendingin atau coolant. Padahal, mengetahui jadwal penggantian air radiator menjadi langkah penting untuk menjaga suhu mesin tetap stabil dan mencegah kerusakan komponen.
Masih banyak pemilik kendaraan yang bertanya, ganti air radiator motor berapa bulan sekali? Jawabannya bergantung pada pemakaian kendaraan.
Advertisement
Namun secara umum, penggantian coolant disarankan setiap 6 hingga 12 bulan sekali atau ketika motor telah menempuh jarak sekitar 10.000-12.000 kilometer.
Mengganti cairan radiator bukan sekadar mengisi ulang air pendingin. Proses ini bertujuan menguras endapan kotoran, karat, hingga partikel logam yang dapat menyumbat saluran pendingin.
Jika dibiarkan, sistem pendingin tidak bekerja optimal sehingga mesin lebih mudah mengalami overheat yang berdampak pada performa dan konsumsi bahan bakar.
Berdasarkan informasi dari Suzuki, berikut enam tips merawat radiator motor agar tetap bekerja optimal.
1. Jangan Gunakan Air Keran, Selalu Pakai Coolant
Masih ada pengendara yang mengisi radiator menggunakan air keran atau air sumur karena dianggap lebih praktis. Padahal, air biasa mengandung mineral seperti kapur dan zat besi yang dapat membentuk kerak pada saluran radiator.
Kerak tersebut menghambat proses pelepasan panas mesin sehingga suhu kerja meningkat. Oleh karena itu, gunakan coolant khusus radiator yang sudah mengandung zat antikarat (anti-corrosion inhibitor) agar sistem pendingin tetap bersih dan tahan lama.
2. Rutin Periksa Volume Cairan Radiator
Luangkan waktu untuk mengecek tabung reservoir, terutama sebelum melakukan perjalanan jauh. Pastikan volume coolant berada di antara garis Low (L) dan High (F).
Apabila cairan radiator cepat berkurang tanpa terlihat adanya kebocoran dari luar, kondisi tersebut patut diwaspadai.
Bisa jadi terdapat masalah pada paking mesin atau kepala silinder yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di bengkel.
3. Kuras Air Radiator Sesuai Jadwal
Untuk penggunaan normal, pengurasan radiator disarankan setiap 6-12 bulan atau setelah menempuh jarak sekitar 10.000-12.000 km.
Namun, jika motor digunakan setiap hari di tengah kemacetan, cuaca panas, atau kondisi jalan yang berat, penggantian coolant sebaiknya dipercepat menjadi sekitar 4 bulan sekali.
Pengurasan berkala membantu menghilangkan lumpur, karat, dan endapan logam yang dapat mengganggu sirkulasi pendingin.
4. Bersihkan Sirip Radiator
Posisi radiator yang berada di bagian depan motor membuatnya mudah terkena debu, pasir, kerikil, hingga serangga.
Kotoran yang menempel pada sirip radiator dapat menghambat aliran udara sehingga proses pendinginan menjadi kurang maksimal.
Saat mencuci motor, bersihkan sirip radiator menggunakan sikat berbulu halus dan semprot air dengan tekanan sedang agar kisi-kisi radiator tidak bengkok.
5. Periksa Selang dan Tutup Radiator
Selain coolant, kondisi selang dan tutup radiator juga perlu mendapat perhatian. Pastikan selang tidak retak, mengeras, maupun menggelembung, serta klem pengikat masih terpasang dengan kuat.
Sementara itu, tutup radiator berfungsi menjaga tekanan dalam sistem pendingin. Apabila seal karetnya rusak atau berkarat, cairan pendingin akan lebih mudah mendidih dan menguap sehingga berpotensi menyebabkan mesin overheat.
6. Terapkan Gaya Berkendara yang Tepat
Cara berkendara juga memengaruhi suhu kerja mesin. Jika lampu indikator suhu menyala atau jarum temperatur mendekati posisi H, segera hentikan kendaraan di tempat yang aman.
Biarkan mesin tetap hidup dalam kondisi langsam (idle) selama beberapa saat agar kipas radiator membantu menurunkan suhu mesin.
Hindari langsung membuka tutup radiator ketika mesin masih panas karena uap bertekanan tinggi dapat menyembur dan menyebabkan luka bakar.
Selain itu, hindari memacu motor secara berlebihan, terutama saat melewati tanjakan panjang tanpa memberi waktu mesin untuk beristirahat.