Liputan6.com, Jakarta - Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa karya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akan dibedah dalam forum ilmiah yang menghadirkan sejumlah ulama dan kiai Nahdlatul Ulama di Jakarta, Jumat (10/7/2026) mendatang.
Kegiatan bertajuk Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa – Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW itu akan digelar pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah, Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Advertisement
Sejumlah ulama dijadwalkan menjadi narasumber, di antaranya KH Said Aqil, KH Afifuddin Muhajir, Dr. KH Abdul Ghofur Maimun, KH M. Faiz Syukron Makmun, dan Gus Kautsar Nurul Huda Jazuli.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga ruang kajian ilmiah untuk membahas kitab karya KH Zulfa Mustofa dari perspektif tradisi pesantren, ushul fiqih, sanad keilmuan, serta relevansinya dengan persoalan keagamaan kontemporer.
Sebelumnya, bedah kitab yang sama telah digelar di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang, pada 19 Juni 2026. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran PCNU se-Jawa Timur, para pengasuh pondok pesantren, dan pemerhati kajian keislaman.
Dalam forum di Jombang, KH Zulfa Mustofa bersama KH Afifuddin Muhajir memaparkan pentingnya menguatkan kembali tradisi intelektual pesantren yang berpijak pada khazanah klasik sekaligus responsif terhadap perkembangan masyarakat.
Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa merupakan karya KH Zulfa Mustofa yang disusun selama sekitar delapan tahun. Kitab berbahasa Arab itu membahas ilmu ushul fiqih, yakni metodologi dalam memahami, menggali, dan menetapkan hukum Islam.
Penguasaan Ushul Fiqih Jadi Bekal Penting
Menurut KH Zulfa, penguasaan ushul fiqih menjadi bekal penting agar ulama mampu menjawab persoalan keagamaan sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia.
"Kita dalam berfatwa atau menjawab suatu persoalan tidak boleh begitu saja mengimpor fatwa dari luar. Bisa jadi kondisi masyarakat kita berbeda dengan kondisi masyarakat di tempat lain. Kalau memang terdapat kesamaan sebab hukum dan kesamaan kasus, tentu bisa dijadikan rujukan. Namun kalau hanya sekadar copy-paste, belum tentu sesuai dengan realitas yang dihadapi masyarakat kita," tegas KH Zulfa Mustofa.
Melalui forum tersebut, KH Zulfa juga mengajak kalangan ulama, akademisi, dan pesantren untuk terus menghidupkan tradisi menulis kitab sebagai bagian dari pengembangan khazanah keilmuan Islam.
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujarnya.
Acara bedah kitab akan dipandu oleh Gus Miftah sebagai moderator dan terbuka bagi kalangan ulama, akademisi, santri, serta masyarakat yang ingin mengikuti kajian kitab tersebut.