Khamenei Dimakamkan, Megawati Kenang Sosok Patriotik

Megawati Soekarnoputri mengenang Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin patriotik yang teguh pada prinsip dan memiliki semangat perjuangan.

oleh Putu Merta Surya PutraDiterbitkan 07 Juli 2026, 19:35 WIB
Para pelayat mengelilingi sebuah truk yang membawa peti mati mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan anggota keluarganya selama prosesi pemakaman di Teheran, Iran, Senin, 6 Juli 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengenang sosok Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai pemimpin patriotik yang memiliki semangat perjuangan.

Dalam pernyataan belasungkawa atas wafatnya Khamenei, Megawati menyebut kepergian tokoh tersebut sebagai kehilangan besar bagi Iran dan bagi perjuangan keadilan di dunia.

"Wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya kehilangan besar bagi bangsa Iran, tetapi juga telah mengguncang hati banyak orang yang mencintai keadilan, kedaulatan bangsa dan kemanusiaan di seluruh penjuru dunia," kata Megawati dalam rekaman yang diterima, Selasa (7/7/2026).

"Bagi saya pribadi, sosok Ayatollah Ali Khamenei bukanlah sekadar pemimpin politik atau tokoh agama dari bangsa Iran yang dikenal sangat patriotik dan tidak pernah mengenal kata menyerah. Dalam diri beliau, saya melihat gema perjuangan yang pernah dirintis oleh ayahanda saya, Bung Karno," sambungnya.

Ketua Umum PDIP ini mengenang pertemuannya dengan Ayatollah Ali Khamenei saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran pada 2004. Ia menilai Khamenei sebagai ulama yang berprinsip, dan berkarisma.

"Dalam pertemuan itulah saya berkesempatan bertatap muka langsung dengan beliau. Saat itu, saya merasakan pancaran kharisma yang sangat kuat dan keteduhan hati yang sangat dalam. Beliau adalah seorang ulama yang lembut namun teguh memegang prinsip, sekaligus seorang negarawan yang peka terhadap derita bangsanya," ungkap dia.

Megawati mengatakan Ayatollah Ali Khamenei pernah memandang Pancasila dan semangat Bandung sebagai salah satu referensi penting dalam merumuskan visi Iran yang merdeka dan bermartabat.

"Bagi saya, ini bukanlah pujian diplomatik. Itu adalah pengakuan bahwa ada jembatan batin yang mendalam antara kedua bangsa. Sebuah jembatan yang dibangun dari pengalaman bersama melawan penjajahan, intervensi asing dan luka-luka sejarah, serta pengharapan akan dunia yang lebih adil dan bermartabat," tutur dia.

"Oleh karenanya, ketika hari ini kita melepas kepergian beliau, saya tidak hanya merasakan kehilangan seorang pemimpin Iran, akan tetapi juga seorang penjaga api perjuangan dunia ketiga," sambungnya.

 

 

 

 

 

Penyelesaian Secara Damai

Dalam pernyataannya, Megawati juga menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian konflik melalui jalur damai, dialog yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan melalui kekerasan maupun agresi bersenjata sepihak.

"Hari ini, dalam kenangan indah terhadap beliau, saya ingin menegaskan kembali keberpihakan saya pada penyelesaian konflik melalui jalan damai, dialog yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan kemanusiaan, bukan pada kekerasan dan agresi bersenjata sepihak," tutur dia.

Megawati pun kembali turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum, para pemimpin, ulama, dan seluruh rakyat Iran.

"Kepada keluarga besar Almarhum, para pemimpin dan ulama Iran, serta seluruh rakyat Iran, izinkan saya menyampaikan doa yang paling tulus. Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang melapangkan jalan bagi beliau, menerima seluruh amal perjuangannya, dan mengampuni segala kekhilafannya. Semoga rakyat Iran dianugerahi kekuatan, persatuan, dan kebijaksanaan untuk melalui masa-masa sulit ini, di tengah badai sejarah yang sedang bergelora," kata dia.

"Selamat jalan Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei. Kami melepas kepergianmu dengan doa, rasa hormat dan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu," tutup Megawati.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya