Liputan6.com, London - Serangkaian serangan bom mengguncang sistem transportasi umum di London, Inggris, pada 7 Juli 2005. Empat ledakan yang terjadi hampir bersamaan itu menewaskan 52 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya, menjadikannya salah satu aksi teror paling mematikan dalam sejarah modern Inggris.
Dikutip dari BBC pada Selasa (7/7/2026), tiga ledakan pertama terjadi sekitar pukul 08.50 waktu setempat di jaringan kereta bawah tanah (Tube). Ledakan menghantam kereta yang berada di dekat Stasiun Liverpool Street, Edgware Road, serta kereta yang melintas di antara Stasiun King's Cross dan Russell Square.
Advertisement
Sekitar satu jam kemudian, ledakan keempat menghancurkan bus tingkat rute nomor 30 di Tavistock Square, tidak jauh dari King's Cross. Ledakan tersebut terjadi ketika layanan transportasi bawah tanah telah terganggu akibat tiga serangan sebelumnya.
Pemerintah Inggris saat itu menduga serangan tersebut memiliki keterkaitan dengan jaringan Al-Qaeda. Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Jack Straw, mengatakan pola serangan menunjukkan kemiripan dengan aksi-aksi yang sebelumnya dilakukan kelompok teroris tersebut.
"Serangan ini memiliki ciri-ciri khas yang sama dengan Al-Qaeda," kata Straw.
Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair, yang langsung kembali ke London dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G8 di Gleneagles, Skotlandia, mengecam keras aksi teror tersebut. Ia menegaskan pemerintah akan mengerahkan seluruh kemampuan aparat kepolisian dan badan keamanan untuk memburu serta mengadili para pelaku.
Dalam pidato yang disiarkan dari Downing Street, Blair menyampaikan belasungkawa kepada para korban sekaligus memberikan penghormatan kepada warga London yang tetap tegar menghadapi tragedi tersebut.
"Mereka sengaja melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang tidak bersalah untuk menakut-nakuti kita, agar kita takut menjalani kehidupan seperti biasa," ujar Blair.
Serangan bom London pada 7 Juli 2005 kemudian menjadi titik balik dalam kebijakan keamanan Inggris. Pemerintah memperketat langkah-langkah antiteror, meningkatkan pengawasan terhadap jaringan ekstremis, serta memperkuat sistem keamanan di transportasi publik guna mencegah serangan serupa terulang.