Data Ekonomi Ini Bakal jadi Perhatian Investor

Setelah IHSG dan rupiah melemah pekan lalu, sentimen data ekonomi dari Indonesia dan Amerika Serikat ini akan menjadi perhatian.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Juli 2026, 14:14 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah pada perdagangan 29 Juni-3 Juli 2026. Sejumlah sentimen membayangi IHSG dan rupiah selama sepekan. Lalu apa saja data ekonomi yang akan menjadi perhatian pekan ini?

Mengutip riset PT Syailendra Capital, ditulis Senin, (6/7/2026), Indonesia merilis beberapa data ekonomi domestik Juni 2026. Data makro ekonomi itu antara lain inflasi mencapai 3,34% dari sebelumnya 3,08%. Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,76% dari sebelumnya 2,59%. Di sisi lain, PMI Manufaktur Indonesia alami kontraksi menjadi 46,9, dari sebelumnya 50.

Selain itu, neraca dagang Indonesia turun menjadi US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Hal itu menjadi bulan pertama neraca dagang Indonesia mengalami defisit setelah surplus 72 bulan beruntun.

Sementara itu, Pertamina juga menyalurkan solar B50 mulai 1 Juli 2026 sebanyak 87,27 juta liter pada tahap awal. Di sisi lain, harga Pertamax turun menjadi Rp 19.300 per liter dari sebelumnya Rp 20.750 per liter. Pertamina Dex susut menjadi Rp 21.150 per liter dari sebelumnya Rp 24.800 per liter.

Selain itu, DPR dan Pemerintah juga resmi menyetujui dasar ekonomi makro untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Target data makro ekonomi itu antara lain:

  • Pertumbuhan ekonomi: 5,8%-6,5%
  • Tingkat inflasi: 1,5%-3,5%
  • Nilai tukar rupiah Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat
  • Yield SUN 10 tahun: 6,5%-7,3%

Sedangkan dari sentimen global, pasar data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) melemah pada Juni 2026. Nonfarm Payrolss (NFP) tercatat hanya 57.000 dari konsensus sebelumnya 110.000.

“Selain itu, indeks manufaktur AS ke 53,5 dari sebelumnya 54 yang mengindikasikan perlambatan ekspansi,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

OPEC+ juga akan menambah produksi minyak 188.000 barel per hari pada Agustus 2026. “Artinya, sejak perang dimulai, produksi telah naik 940.000 bpd atau setara 1% permintaaan global,” demikian seperti dikutip.

IHSG dan Rupiah Turun Pekan Lalu

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Seiring sentimen itu, bagaimana pasar keuangan pekan lalu?

Berdasarkan riset Syailendra Capital, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS sebesar 0,2% menjadi 17.994. Indeks dolar AS juga melemah 0,62% ke level 100,87.

Pasar obligasi dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun tipis ke level 7,14%, yang diikuti dengan aliran dana investor asing keluar sebesar Rp 1,4 triliun pekan lalu. Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat bergerak naik dari 4,37% menjadi 4,48%.

Sedangkan IHSG melemah 0,35% pada pekan lalu ke level 5.876, dan aliran dana investor asing yang keluar mencapai Rp 2,75 triliun.

Sementara itu, wall street kompat menguat. Indeks Nasdaq naik 1,9%, indeks Dow Jones bertambah 1,9% dan indeks S&P 500 mendaki 1,7%.

Lalu pekan ini, data ekonomi apa saja yang perlu dicermati:

Indonesia:

-7 Juli 2026 akan rilis data cadangan devisa

-7 Juli 2026 akan rilis data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK)

Amerika Serikat:

-8 Juli 2026 akan rilis data neraca perdagangan

-8 Juli 2026 akan rilis data penjualan ritel

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya