25 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas Ekstrem di AS

Cuaca ekstrem juga memicu pemadaman listrik, pembatalan perayaan Hari Kemerdekaan, hingga melelehnya aspal di sejumlah wilayah.

oleh SupriatinDiterbitkan 05 Juli 2026, 20:33 WIB
Warga mendinginkan diri dengan kabut air di sepanjang Las Vegas Strip, Amerika Serikat, Selasa (24/7). Badan Cuaca Nasional telah mengeluarkan peringatan panas ekstrem untuk lembah Las Vegas. (AP Photo/John Locher)

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat (AS) telah menewaskan sedikitnya 25 orang. Cuaca ekstrem juga memicu pemadaman listrik, pembatalan perayaan Hari Kemerdekaan, hingga melelehnya aspal di sejumlah wilayah.

Laporan NBC menyebutkan, dari total korban jiwa tersebut, 22 orang meninggal di Negara Bagian New Jersey. Pejabat kesehatan New Jersey, Dalya Eweis mengatakan, jumlah kematian akibat cuaca panas di wilayah itu bertambah dari 19 menjadi 22 orang pada Sabtu (4/7/2026).

Selain di New Jersey, satu kematian terkait gelombang panas dilaporkan di Illinois dan dua lainnya di Mississippi.

Cuaca panas juga memecahkan rekor suhu di sejumlah wilayah. ABC melaporkan suhu udara di Washington, DC mencapai 38,8 derajat Celsius saat peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli. Angka tersebut melampaui rekor yang telah bertahan selama lebih dari satu abad.

Di New York, suhu mencapai sekitar 38 derajat Celsius pada Kamis (2/7/2026). Panas yang menyengat bahkan menyebabkan aspal di sejumlah ruas jalan meleleh.

Gelombang panas yang disertai badai petir musim panas turut mengganggu pasokan listrik di berbagai negara bagian. Hingga Sabtu, sedikitnya 840.000 rumah tangga dilaporkan mengalami pemadaman listrik.

Dampak cuaca ekstrem juga terasa pada rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Sejumlah kota di kawasan Pesisir Timur terpaksa membatalkan atau menjadwal ulang berbagai acara demi menjaga keselamatan masyarakat.

1.300 Orang Meninggal di Eropa

Gelombang panas ekstrem juga melanda Eropa sejak pertengahan Juni 2026. Lebih dari 1.300 orang meninggal akibat cuaca tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kondisi ini sebagai salah satu dampak paling mematikan dari cuaca panas yang memecahkan rekor di berbagai negara Eropa.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan suhu tinggi tersebut telah memicu lonjakan kematian di berbagai wilayah. Dia menyebut stres panas sebagai “pembunuh senyap” yang kerap tidak disadari dampaknya.

“Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu seperti ini,” kata Tedros melalui akun X.

Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari perkiraan sejak Rabu akibat dampak cuaca panas, menurut laporan France24 pada Minggu (28/6/2026).

Secara keseluruhan, WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026. Selain korban jiwa, gelombang panas juga berdampak luas pada aktivitas masyarakat, mulai dari penutupan sekolah hingga tekanan terhadap jaringan listrik.

Diperkirakan sedikitnya 191 juta orang di Eropa terdampak suhu ekstrem ini, dengan beberapa negara seperti Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia mengalami kondisi terparah.

Republik Ceko bahkan mencatat rekor baru setelah suhu mencapai 41,1 derajat Celsius di Doksany, utara Praha. Institut Meteorologi Ceko (CHMI) menyebut ini pertama kalinya suhu di atas 41 derajat Celsius tercatat dalam sistem pengamatan resmi negara tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya