Meksiko vs Inggris, Saat Mimpi Tuan Rumah Bertemu Tradisi Raksasa Eropa

Meksiko vs Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 2026 mempertemukan mimpi tuan rumah dengan pengalaman panjang The Three Lions.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 05 Juli 2026, 16:00 WIB
Penampakan Mexico City Stadium dari udara saat laga pertama Piala Dunia 2026 antara Meksiko vs Afrika Selatan, 12 Juni 2026. (AP Photo/Antonio Felix)

Liputan6.com, Jakarta - Inggris datang ke Mexico City dengan status salah satu favorit juara, tetapi mereka juga memahami bahwa Estadio Azteca bukan tempat yang mudah ditaklukkan. Di kota yang menyimpan begitu banyak cerita Piala Dunia itu, The Three Lions akan menghadapi Meksiko yang tengah menikmati salah satu perjalanan terbaik dalam sejarah mereka.

Laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 besok pagi ini terasa lebih besar daripada sekadar perebutan tiket perempat final. Ada harapan jutaan pendukung tuan rumah yang mulai percaya bahwa turnamen kali ini dapat menjadi momen bersejarah bagi El Tri.

Keyakinan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Meksiko tampil sempurna pada fase grup dan terus menunjukkan perkembangan setiap kali melangkah ke lapangan.


Mexico City Menjadi Panggung Kebangkitan El Tri

Para pemain Meksiko merayakan setelah penyerang #09 Raul Jimenez (tidak terlihat) mencetak gol kedua timnya selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Ekuador di Stadion Kota Meksiko di Kota Meksiko pada 1 Juli 2026. (Alfredo ESTRELLA/AFP)

Bermain di hadapan publik sendiri memberi energi tambahan bagi Meksiko sepanjang turnamen. Tim asuhan Javier Aguirre mengubah dukungan dari tribune menjadi kekuatan yang membuat lawan kesulitan menemukan ritme permainan.

Kemenangan atas Afrika Selatan, Ceko, dan Korea Selatan menghasilkan sembilan poin sempurna di fase grup. Catatan itu menjadi fase grup terbaik Meksiko dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.

Perjalanan tersebut berlanjut ketika Ekuador disingkirkan dengan penampilan yang meyakinkan. Hasil itu membuat keyakinan bahwa Meksiko mampu melangkah lebih jauh semakin kuat di kalangan pendukung maupun para pemain.

Bagi publik Meksiko, kenangan tahun 1986 kembali muncul dalam percakapan sehari-hari. Saat itu mereka terakhir kali menjadi tuan rumah sekaligus terakhir kali mencapai perempat final Piala Dunia.

Raul Jimenez dan Joel Quinones menjadi wajah dari optimisme tersebut. Keduanya tampil produktif dan mampu menghadirkan ancaman yang konsisten bagi pertahanan lawan.

Aguirre memahami bahwa tantangan berikutnya jauh lebih berat dibanding pertandingan sebelumnya. Namun, pelatih berpengalaman itu melihat laga melawan Inggris sebagai kesempatan untuk menciptakan bab baru dalam sejarah sepak bola negaranya.

"Mereka memiliki pemain-pemain penting di dalam maupun luar Inggris, kuat secara fisik, dan memainkan sepak bola yang bagus. Sudah banyak pertandingan bersejarah dalam sepak bola Meksiko, dan ini akan menjadi salah satunya," ujar Aguirre.

Lanjut Baca:

Bagi Inggris, Mexico City juga memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Piala Dunia. Kota ini mengingatkan mereka pada edisi 1986, ketika langkah menuju gelar terhenti oleh Argentina dalam pertandingan yang dikenang karena momen "Hand of God" Diego Maradona. Empat puluh tahun kemudian, Inggris kembali ke kota yang sama dengan generasi pemain berbeda dan target yang sama besar. Mereka ingin membuktikan bahwa status unggulan bukan sekadar label di atas kertas. Harry Kane menjadi simbol ketajaman Inggris sepanjang turnamen ini. Lima gol yang telah dicetaknya menjaga harapan pendukung untuk melihat The Three Lions kembali menembus fase-fase akhir Piala Dunia. Di belakang Kane, Jude Bellingham terus menunjukkan kualitas sebagai penggerak permainan. Gelandang muda itu menghadirkan keseimbangan antara kreativitas, intensitas, dan kemampuan membaca pertandingan. Meski demikian, perjalanan Inggris sejauh ini tidak selalu mulus. Mereka harus bekerja keras saat menghadapi RD Kongo pada fase gugur, sebuah pengalaman yang menunjukkan bahwa setiap kemenangan kini memiliki harga yang lebih mahal. "Masih ada hal-hal yang perlu kami perbaiki, dan pada fase seperti ini yang terpenting adalah lolos. Kami sudah memasuki bagian turnamen ketika kemenangan harus diraih dengan kerja keras, dan itulah yang sudah kami lakukan," kata Kane. Saat peluit pertama dibunyikan di Estadio Azteca, yang bertemu bukan hanya dua tim dengan kualitas tinggi. Meksiko membawa impian untuk mengulang keajaiban di rumah sendiri, sementara Inggris datang dengan tradisi panjang dan ambisi mengakhiri penantian gelar yang sudah berlangsung puluhan tahun. Sumber: FIFA

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya