Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) menggelar forum Women Program yang mempertemukan para penggerak Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dari berbagai kabupaten di Indonesia.
Forum ini dirancang sebagai ajang belajar bersama, ruang konsolidasi, serta wadah mempererat kerja sama lintas daerah guna memperkuat peran strategis perempuan dalam meningkatkan daya saing daerah, mempercepat penurunan angka stunting, dan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Advertisement
Acara bertema "Penguatan Peran Perempuan dalam Meningkatkan Daya Saing Daerah" ini diselenggarakan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Kamis (2/7). Forum strategis tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Apkasi yang bertepatan dengan Hari Jadi ke-80 Kabupaten Deli Serdang.
Ketua TP-PKK Kabupaten Lahat, Sri Meliyana Bursah, menegaskan forum Women Program Apkasi memiliki urgensi tinggi bagi para penggerak organisasi perempuan di tingkat akar rumput. Menurutnya, kerja-kerja sosial kemasyarakatan yang dijalankan kader PKK di daerah kerap menghadapi keterbatasan ruang gerak, anggaran, hingga resistensi sosial.
"Perempuan di daerah dituntut memiliki dua modal dasar yang seimbang, yakni ilmu pengetahuan dan kasih sayang. Keduanya harus menyatu agar program yang dirancang dapat membumi dan dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Sri Meliyana yang juga anggota Komisi IX DPR, Kamis (2/7).
Ia mencontohkan penanganan persoalan krusial di daerah, seperti pelepasan pasung terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Jika di tingkat pusat pembahasan lebih banyak berkutat pada aspek regulasi dan perencanaan anggaran, kader PKK di daerah harus menyelesaikan persoalan tersebut secara langsung di lapangan dengan segala keterbatasan.
Karena itu, ia mengajak kaum perempuan Indonesia mempererat jejaring, saling berbagi praktik baik, peka terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba, serta terus menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal.
Di sektor kesehatan keluarga, Ketua TP-PKK Kabupaten Deli Serdang, Jelita Siregar, memaparkan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan kunci utama dalam mengatasi persoalan gizi buruk dan stunting.
Sebagai akademisi sekaligus Ketua Program Studi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU), Jelita memandang perempuan tidak hanya sebagai pendidik pertama dalam keluarga, tetapi juga motor penggerak ekonomi dan agen perubahan sosial.
"Keberhasilan pembangunan daerah mustahil tercapai tanpa keterlibatan aktif kaum perempuan. Penguatan kapasitas ini harus dilembagakan melalui penyusunan strategi bersama antardaerah," kata Jelita.
Ia menambahkan, penurunan angka stunting harus dimulai dari hulu melalui edukasi kepada perempuan usia pranikah untuk menekan angka pernikahan dini. Dari sisi medis, kesiapan reproduksi dinilai lebih optimal pada usia 21 tahun sehingga dapat mengurangi risiko gangguan kehamilan serta masalah tumbuh kembang anak.
Menurutnya, periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase krusial yang tidak boleh diabaikan. Pemantauan berkala terhadap berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan perkembangan motorik anak harus terus diperkuat.
Upaya tersebut didukung berbagai regulasi, di antaranya UU Nomor 17 Tahun 2023, UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta Permendagri Nomor 53 Tahun 2020 tentang Tata Kerja dan Penyelarasan Kerja serta Pembinaan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi, Kabupaten, dan Kota.
Lebih lanjut, Jelita mengungkapkan angka stunting di Deli Serdang masih berada di kisaran 19 persen. Berdasarkan evaluasi medis, persoalan tersebut kerap dipicu oleh buruknya sanitasi dan higienitas, termasuk kekeliruan dalam penyajian susu formula.
"Banyak ibu mencampur susu dengan air yang terlalu panas, padahal protein susu tidak tahan terhadap suhu tinggi sehingga kandungan gizinya dapat berkurang. Hal-hal mendasar seperti ini, ditambah buruknya akses layanan kesehatan, turut berkontribusi terhadap tingginya kasus stunting," ujarnya.
Revitalisasi UMKM dan Pola Pikir Kreatif
Selain isu kesehatan, kemandirian ekonomi perempuan juga menjadi salah satu fokus dalam forum Women Program. Praktisi ekonomi kreatif sekaligus Pendiri Langgam Batik, Rafika Johani, menekankan pentingnya kreativitas dan keberanian agar pelaku UMKM binaan perempuan mampu naik kelas.
Menurut Rafika, perempuan memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemampuan komunikasi yang baik dan keterampilan multitasking. Potensi tersebut perlu diarahkan untuk mengoptimalkan promosi digital, meningkatkan kualitas kemasan produk, serta menyusun narasi produk (storytelling) yang mengangkat keunikan dan filosofi kearifan lokal masing-masing daerah.
"Kita jatuh karena pola pikir atau mindset kita, dan kita pun bangkit karena mindset kita sendiri. Pelaku UMKM perempuan harus percaya diri, berani mengambil risiko, dan memaksimalkan sumber daya lokal yang ada di daerahnya," tegas Rafika.