Liputan6.com, Jakarta - PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) akan membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 350,99 miliar. Dividen yang dibagikan itu setara Rp 193 per saham.
Perseroan membagikan dividen sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 26 Juni 2026. Perseroan mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2025 untuk membagikan dividen antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 359,67 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 4,29 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 5,03 triliun. Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (4/7/2026).
Advertisement
Berikut jadwal pembagian dividen perseroan untuk tahun buku 2025:
- Tanggal efektif pada 26 Juni 2026
- Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 6 Juli 2026
- Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 7 Juli 2026
- Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 8 Juli 2026
- Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 9 Juli 2026
- Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 8 Juli 2026, waktu: 16.00
- Tanggal pembayaran dividen pada 28 Juli 2026
Berdasarkan data Google Finance, harga saham SGRO ditutup naik 4,91% menjadi Rp 2.990 per saham pada Jumat, 3 Juli 2026. Harga saham SGRO berada di level tertinggi Rp 2.990 dan terendah Rp 2.850 per saham. Kapitalisasi pasar saham SGRO mencapai Rp 5,44 triliun.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 2,28% menjadi 5.875,78. Indeks saham LQ45 bertambah 2,88% menjadi 581,78. Seluruh indeks saham acuan menghijau.
AGPA Borong Saham SGRO Rp 4,73 Triliun
Sebelumnya, kepemilikan saham di emiten perkebunan kelapa sawit, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), mengalami perubahan signifikan setelah adanya transaksi pembelian saham dalam jumlah besar pada awal Maret 2026 oleh AGPA PTE. LTD.
Transaksi tersebut membuat porsi kepemilikan saham melonjak drastis hingga mendekati seluruh saham dengan hak suara di perusahaan.
Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Jumat (6/3/2026) berdasarkan laporan kepemilikan saham, transaksi pembelian dilakukan pada 3 Maret 2026 dengan jumlah saham mencapai ratusan juta lembar. Nilai transaksi juga tercatat sangat besar, mencapai triliunan rupiah.
Sebelum transaksi dilakukan, jumlah saham yang dimiliki tercatat sebanyak 1.195.217.500 unit dengan porsi hak suara sebesar 65,721%. Kepemilikan tersebut sebelumnya sudah mencerminkan posisi pemegang saham pengendali di perusahaan perkebunan tersebut.
Namun setelah transaksi pembelian saham dilakukan, jumlah kepemilikan meningkat signifikan menjadi 1.794.889.157 saham. Dengan kenaikan tersebut, porsi hak suara melonjak menjadi 98,695% dari total saham yang memiliki hak suara.
Artinya, terdapat tambahan saham yang dibeli sebanyak 599.671.657 lembar saham. Seluruh saham yang ditransaksikan tersebut diklasifikasikan sebagai saham biasa.
Lonjakan kepemilikan ini membuat konsentrasi saham di SGRO semakin terkonsolidasi pada satu pihak pemegang saham utama. Dengan kepemilikan hampir menyentuh 100%, kontrol terhadap keputusan strategis perusahaan menjadi semakin dominan.
Nilai Transaksi Tembus Rp 4,73 Triliun
Transaksi pembelian saham tersebut juga mencatat nilai yang sangat besar. Total harga transaksi dilaporkan mencapai Rp 4.739.205.105.271 atau sekitar Rp 4,73 triliun.
Besarnya nilai transaksi tersebut mencerminkan skala aksi korporasi yang signifikan di emiten sektor perkebunan tersebut. Langkah ini juga menunjukkan adanya upaya penguatan posisi kepemilikan saham oleh pihak pembeli.
Dengan tambahan hampir 600 juta saham, struktur kepemilikan saham SGRO berubah secara drastis. Porsi kepemilikan yang mencapai lebih dari 98% memberikan kekuatan penuh dalam menentukan arah kebijakan perusahaan ke depan.