Penjelasan BMKG Soal Fenomena Surutnya Air Laut Banten

Fenomena surutnya air laut di Pantai Karangantu, Serang, Banten mengundang perhatian warga.

oleh Riz diperbarui 09 Feb 2014, 18:22 WIB

Fenomena surutnya air laut di Pantai Karangantu, Serang, Banten mengundang perhatian warga. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena yang terjadi beberapa hari terakhir itu disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari.

Seperti dimuat dari situs BMKG, Minggu (9/2/2014), surutnya air laut terjadi akibat posisi bulan dan matahari terhadap bumi. BMKG mencatat pada 30 Januari 2014, jarak bumi dan bulan mencapai titik terdekatnya (perigee) dengan jarak sebesar 357079,741 km.

Peristiwa ini hanya berselisih 11.41 jam dari fase bulan baru atau konjungsi atau terjadi pada 30 Januari 2014 pukul 21.41 UT atau 31 Januari 2014 pukul 04.41 WIB. Maka posisi bulan tersebut berefek menimbulkan pasang atau surut air laut dalam waktu 2 hingga 3 hari ke depan.

Biasanya fenomena air laut surut dapat terjadi akibat beberapa kemungkinan seperti terjadi setelah didahului gempa bumi kuat yang mengakibatkan dasar laut bergerak naik (patahan naik) atau turun. Fenomena air laut yang disebabkan patahan tersebut akan menimbulkan tsunami beberapa menit setelah gempa bumi.

Berdasarkan pemantauan seismik dari wilayah Banten dan Sumatera (Lampung) sejak 4 Februari sampai 5 Februari 2014, tidak ada rekaman gempa bumi yang terjadi.

Fenomena air laut surut dapat juga terjadi akibat adanya longsoran atau amblesan dasar laut dalam skala besar. Berdasarkan pemantauan seismik di daerah tersebut tidak ada rekaman gempa bumi guguran (longsoran) yang terjadi.

Fenomena air laut surut dalam periode yang lama karena adanya fenomena "uplift zona" sekitar pantai. Gerakan uplift ini tidak dapat terpantau dari stasiun seismik tapi dapat dianalisis dari data GPS.

Di media sosial, surutnya air di Pantai Karangantu menjadi perbincangan dan menimbulkan kekhawatiran, dalam beberapa hari terakhir. Tamo Yadi, salah satu nelayan di Pelabuhan Karangantu, Serang mengatakan, fenomena surutnya air laut itu terjadi sejak awal Januari 2014.

"Ya dari Januari awal sampai sekarang ini. Baru tahun ini surut nya, sampe 1 km lah. Biasanya cuma dikit doang, tapi sekarang sampe tengah. Biasanya ya paling 200-an meter," ujar Tamo.

Warga Anggap Biasa

Meski bikin heboh dunia maya, namun warga yang berada di lokasi Pantai Karangantu atau setidaknya yang melihat langsung laut surut di Banten, menilai fenomena itu biasa-biasa saja.

"Ini biasa saja, mungkin karena lumpurnya saja lebih banyak. Jadi terlihat seperti lebih jauh surutnya," kata Agus, seorang pengunjung Karangantu asal Cipare.

Hal senada juga disampaikan warga setempat, Muhtar. Dia mengatakan, apa yang terjadi sekarang ini dianggap sebagai hal yang biasa. Ia mengaku heran melihat banyaknya orang yang menjadikan ini sebagai sesuatu yang besar.

"Bagi kami warga di sini sudah tidak aneh lagi. Ini biasa saja, tidak ada yang berlebihan. Kenapa warga di luar jadi pada ribut," kata Muhtar, warga setempat. Menurut dia, dengan kondisi tersebut para nelayan dan warga di Karangantu merasa tidak ada gangguan, karena kondisi seperti itu terjadi setiap hari. (Ant/Riz)

Baca juga:

Fenomena Aneh, Laut Pantai Utara Banten Surut 1 Km
Laut Pantai Utara Banten Surut Sejauh 1 Km, BMKG: Kami Bingung
Pantai Utara Banten Surut 1 Km, Diduga Akibat Gaya Gravitasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya