Liputan6.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, industri skincare Indonesia berkembang sangat pesat. Ratusan merek baru bermunculan dengan strategi pemasaran yang semakin agresif. Iklan memenuhi media sosial, promosi dilakukan oleh influencer, dan berbagai klaim menjadi daya tarik utama untuk memenangkan persaingan.
Fenomena tersebut memunculkan sebuah pertanyaan yang menurut Dr. David Lee Thompson, S.Kom., MM layak menjadi perhatian bersama: apakah konsumen saat ini lebih banyak membeli kualitas produk, atau justru membeli citra sebuah merek?
Advertisement
David menilai, semakin berkembangnya industri skincare seharusnya diiringi dengan semakin tingginya transparansi kepada konsumen.
“Konsumen berhak mengetahui apa yang sebenarnya mereka bayar. Jangan sampai mereka hanya membeli kemasan yang mewah atau kampanye pemasaran yang besar, sementara mereka tidak memahami kualitas formulasi di dalamnya,” ujarnya.
Formula Menurutnya Harus Menjadi Prioritas
Sebagai pendiri Skinberries, David mengaku sejak awal ingin membangun sebuah perusahaan yang berangkat dari filosofi sederhana: formula harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, banyak bahan aktif kosmetik berkualitas dunia sebenarnya dapat diperoleh dari pemasok internasional dengan spesifikasi tinggi. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan berani mengalokasikan anggaran lebih besar pada kualitas bahan baku, bukan hanya pada pencitraan merek.
Karena alasan itulah, Skinberries memilih menggunakan bahan baku impor yang telah memenuhi standar mutu dari pemasok yang memenuhi persyaratan industri, kemudian diproses sesuai regulasi kosmetik yang berlaku.
David menilai investasi pada kualitas formula akan memberikan nilai jangka panjang yang lebih baik dibanding hanya mengejar popularitas sesaat.
Harga Skincare Tidak Selalu Mahal
Menurut David, banyak masyarakat mengira harga sebuah skincare sepenuhnya ditentukan oleh kandungan aktifnya.
Padahal dalam praktik industri, harga jual juga dipengaruhi oleh berbagai komponen lain, seperti biaya branding, desain kemasan premium, distribusi, promosi digital, endorsement, hingga strategi pemasaran.
“Brand memang memiliki nilai. Namun saya ingin menunjukkan bahwa sebuah produk dengan formulasi yang baik tetap bisa dijual dengan harga yang lebih terjangkau apabila perusahaan mampu mengelola biaya secara efisien,” katanya.
Lahirnya Skinberries
Berangkat dari pemikiran tersebut, David mendirikan Skinberries.
Visinya bukan menjadi produk yang paling mahal, melainkan menjadi produk yang menawarkan keseimbangan antara kualitas formulasi, keamanan, dan harga.
Ia berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat menikmati skincare dengan bahan aktif yang baik tanpa merasa terbebani oleh harga.
David juga menekankan bahwa kepercayaan konsumen harus dibangun melalui konsistensi kualitas produk, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, bukan semata-mata melalui promosi yang masif.
Menuju Industri yang Lebih Sehat
David berharap industri skincare Indonesia akan semakin kompetitif melalui inovasi, riset, dan transparansi.
Menurutnya, persaingan yang sehat akan mendorong perusahaan terus meningkatkan kualitas produk sekaligus memberikan pilihan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling ramai dipromosikan, tetapi siapa yang mampu mempertahankan kepercayaan konsumen melalui produk yang benar-benar memenuhi harapan mereka.”
(*)