Liputan6.com, Islamabad - Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif bertolak ke Iran pada Jumat (3/7/2026) untuk menghadiri upacara penghormatan terakhir mantan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Kunjungan tersebut, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan, akan dilakukan bersama sejumlah pejabat tinggi pemerintahan.
Dalam konferensi pers mingguan Kementerian Luar Negeri pada Kamis (2/7), juru bicara Tahir Andrabi mengatakan PM Sharif akan didampingi Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, sejumlah anggota kabinet federal, serta pejabat senior pemerintah lainnya. Demikian seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.
Advertisement
Andrabi menuturkan bahwa PM Sharif akan mengikuti upacara pemakaman Ali Khamenei sekaligus menyampaikan belasungkawa atas nama pemerintah dan rakyat Pakistan kepada para pemimpin Iran serta keluarga yang ditinggalkan.
PM Sharif juga akan menegaskan kembali solidaritas Pakistan kepada apa yang disebut Andrabi sebagai "negara sahabat" yang tengah menjalani masa berkabung nasional.
Sementara itu, menurut laporan Tolo News yang berbasis di Kabul, Afghanistan akan diwakili oleh Wakil Perdana Menteri Urusan Ekonomi Mullah Abdul Ghani Baradar dan Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi.
Di Teheran, persiapan upacara pemakaman terus dilakukan di Masjid Mosalla, yang menjadi lokasi utama pelaksanaan salat di ibu kota Iran. Upacara penghormatan terakhir yang terbuka untuk umum dijadwalkan dimulai pada Sabtu (4/7). Para pelayat akan mulai berdatangan sejak pukul 06.00 waktu setempat untuk mengheningkan cipta selama satu menit dan menyampaikan belasungkawa.
Pemerintah Iran berencana memakamkan Ali Khamenei pada 9 Juli di kompleks Makam Imam Reza, yang berada di Kota Mashhad.
Mendiang Ali Khamenei gugur akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari. Dalam rangkaian serangan berikutnya, lebih dari 3.300 orang, termasuk anak-anak sekolah, dilaporkan tewas. Serangan tersebut kemudian memicu aksi balasan Teheran ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Pakistan berperan sebagai salah satu mediator dalam upaya deeskalasi konflik antara AS dan Iran. Proses tersebut kemudian menghasilkan penandatanganan Islamabad Memorandum of Understanding (MoU) pada 17 Juni 2026, yang menetapkan penghentian sementara permusuhan serta masa negosiasi selama 60 hari menuju kesepakatan damai permanen. Meski demikian, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya mengakhiri konflik. Kedua pihak masih saling melancarkan serangan dan menuding lawannya melanggar kesepakatan, sehingga proses perundingan damai terus berlangsung di tengah berlanjutnya konfrontasi bersenjata.