JPMorgan: Perusahaan Kripto Milik Michael Saylor Bakal Guncang Bitcoin

JPMorgan menilai valuasi perusahaan Strategy yang berkaitan erat dengan harga bitcoin dapat negatif karena ketidakpastian dan volatilitas di pasar kripto.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Juli 2026, 13:00 WIB
Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - JPMorgan Chase & Co memperingatkan perombakan pembiayaan yanng dilakukan pendiri Strategy Michael Saylor telah mengguncang dinamika pasar bitcoin (BTC). Hal ini dengan memperkenalkan risiko salah satu pembeli terbesar kripto itu juga dapat menjadi penjual, yang menambah sumber ketidakpastian baru bagi investor.

Mengutip Yahoo Finance, Jumat (3/7/2026), kebijakan baru Strategy untuk selektif menjual bitcoin untuk mendanai dividen saham preferen dan mengelola neraca keuangan telah menciptakan risiko arus dua arah yang dapat dihindari bagi pasar. Demikian disampaikan JPMorgan dalam sebuah laporan pada Rabu malam.

Meskipun mempertahankan cadangan kas yang lebih besar akan mengurangi kemungkinan penjualan di masa mendatang, JPMorgan berpendapat, perusahaan tersebut membutuhkan likuiditas yang cukup untuk menutupi pembayaran dividen selama dua hingga tiga tahun sebelum investor yakin perusahaan tersebut tidak perlu memonetisasi kepemilikan Bitcoin-nya.

Lantaran Strategy adalah salah satu sumber permintaan dominan di pasar Bitcoin, kalibrasi ulang strategi beli dan tahan awal Saylor sangat penting. Menurut JPMorgan, Strategy telah membeli kripto sekitar US$ 8,2 miliar atau Rp 147,40 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di 17.980) tahun ini, yang mencakup sekitar 70% dari perkiraan arus aset digital bersih hingga saat ini, sementara kepemilikannya mewakili sekitar 4,2% dari total pasokan Bitcoin.

"Dengan valuasi perusahaan yang terkait erat dengan harga Bitcoin, ketidakpastian dan volatilitas yang lebih besar di pasar kripto dapat berdampak negatif pada valuasi perusahaan, sehingga meningkatkan biaya penerbitan ekuitas dan utang untuk mendanai pembelian Bitcoin tambahan," tulis Direktur Pelaksana JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou yang mengawasi laporan tersebut.

Ia tidak menanggapi permintaan komentar.

 

Strategy Berpotensi Jual Bitcoin

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Pada Senin, Strategy meluncurkan perubahan besar pada strategi Bitcoin-nya. Rencana tersebut menguraikan wewenang yang lebih luas untuk menjual mata uang kripto, membeli kembali sekuritas, dan menjaga likuiditas seiring adaptasinya terhadap tekanan yang meningkat pada struktur yang telah memicu akumulasi agresif selama bertahun-tahun.

Perusahaan tersebut mencatat setelah meningkatkan cadangan kasnya menjadi US$ 2,25 miliar atau Rp 40,4 triliun, dan memperhitungkan US$ 1,25 miliar atau Rp 22,47 triliun dalam Bitcoin yang telah disetujui untuk dijual. Strategy akan memiliki dana yang setara dengan sedikit lebih dari dua tahun untuk pembayaran.

Strategy tidak segera menanggapi permintaan komentar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Langkah Strategy

Aset kripto Bitcoin, Altcoin, hingga Meme Coin. (Ilustrasi By AI)

Saylor, salah satu pendiri dan ketua Strategy,  awalnya membuat dunia mata uang kripto bergejolak pada 1 Juni, ketika perusahaan tersebut mengungkapkan penjualan 32 Bitcoin US$ 2,5 juta atau Rp 44,94 miliar. Penjualan tersebut membantu memicu penurunan selama sebulan yang akhirnya mendorong Bitcoin turun lebih dari 50% dari titik tertinggi sepanjang masa yang dicapai akhir tahun lalu.

Saham biasa telah stabil sejak perombakan pembiayaan diumumkan Senin lalu, melonjak sekitar 20%. Saham tersebut masih turun sekitar 75% dalam setahun terakhir.

Saham preferen Stretch Strategy juga telah pulih harganya, meskipun masih diperdagangkan di bawah nilai nominal US$ 100 yang dibutuhkan untuk menjual lebih banyak sekuritas guna mendanai pembelian Bitcoin tambahan dengan keuntungan. Obligasi dengan bunga 12% diperdagangkan sekitar US$ 87,50 pada Kamis.

Bitcoin naik untuk hari kedua berturut-turut, meningkat hingga 3,4% menjadi US$ 62.127 pada Kamis. Peningkatan lapangan kerja di AS yang lebih lambat dari perkiraan mendorong sebagian besar aset berisiko naik karena imbal hasil obligasi jangka pendek turun karena spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan terpaksa menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik aset yang lebih fluktuatif seperti kripto.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya