Liputan6.com, Jakarta: Hingga Jumat (9/7), pasangan calon presiden dan wakil presiden Wirato-Salahuddin Wahid unggul di empat provinsi, Bengkulu, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Perolehan suara Wiranto juga unggul di sejumlah daerah konflik.
Pada pemilu legislatif, 5 April silam, Partai Golongan Karya meraih suara terbanyak, 32,3 persen disusul di tempat kedua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 16 persen. Fenomena partai baru seperti Partai Damai Sejahtera dan Partai Demokrat ternyata mendapat sambutan dari masyarakat, seperti di Sulawesi Utara yang menempatkan PDS mampu meraih 14,8 persen suara dan Partai Demokrat 14,3 suara.
Meletusnya konflik di Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah, membuat sebagian masyarakat Sulut khawatir jika berimbas ke wilayahnya. Karena itu warga Sulut menginginkan calon presiden yang dapat memberikan rasa aman. Figur yang cocok untuk mewujudkan hal tersebut adalah mereka yang berlatar belakang milter. Lantaran itu, sosok Wiranto-Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sangat populer di provinsi ini.
Namun, pasangan Megawati-Hasyim juga harus diperhitungkan karena didukung PDS. Hasil sementara Komisi Pemilihan Umum menunjukkan pasangan Wiranto-Wahid masih memimpin disusul Mega-Hasyim dan Sby-Kalla. Kombinasi mayoritas Golkar dan latar belakang militer yang dianggap dapat memberi rasa aman bisa jadi yang membuat masyarakat Sulut memilih pasangan Wiranto-Wahid.
Meskipun Golkar masih mayoritas di provinsi ini pada pemilu legislatif dengan meraih 53 persen, kekuatan partai Islam di Provinsi Gorontalo patut diperhitungkan. Kemenangan Golkar ternyata diikuti dengan kemerosotan jumlah suaranya dibandingkan pemilu sebelumnya. Banyak para pemilih beralih ke partai-partai Islam seperti Partai Bulan Bintang yang meraih 5,3 persen dan Partai Keadilan Sejahtera tiga persen lebih.
Pengaruh partai berlambang pohon beringin yang masih sangat kuat ini ditambah dengan kekuatan Islam menjadikan pasangan Wiranto-Wahid dianggap paling ideal oleh masyarakat Gorontalo. Ini terbukti pada hasil sementara pemilu presiden di provinsi ini yang menempatkan pasangan Wiranto-Wahid di urutan teratas dengan suara 76,5 persen jauh di atas para pesaingnya.
Trauma masyarakat akibat konflik yang terjadi di provinsi Maluku Utara masih dirasakan oleh sebagian masyarakat. Karena itu figur presiden yang menjadi dambaan masyarakat Maluku Utara adalah yang bisa memberi rasa aman. Konflik juga menyebabkan kepercayaan terhadap partai yang berkuasa menurun. Pada Pemilu 1999 suara Golkar masih sekitar 42 persen, namun 2004 tinggal 23 persen.
Pertanyaannya, kemana suara Golkar? Semasa konflik beberapa waktu silam, PKS kerap memberikan bantuan sosial kepada masyarakat dengan mendirikan sejumlah pos koordinasi bantuan sehingga menaikkan citra partai. Sebagai partai baru, PKS mampu meraih 10,5 persen suara.
Figur presiden yang mampu memberi rasa aman adalah mereka yang berasal dari militer karenanya figur Wiranto dan SBY populer di masyarakat Maluku Utara. Hasil sementara suara pemilihan presiden menunjukkan pasangan Wiranto-Wahid disusul Sby-Kalla, masih di urutan teratas.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Pada pemilu legislatif, 5 April silam, Partai Golongan Karya meraih suara terbanyak, 32,3 persen disusul di tempat kedua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 16 persen. Fenomena partai baru seperti Partai Damai Sejahtera dan Partai Demokrat ternyata mendapat sambutan dari masyarakat, seperti di Sulawesi Utara yang menempatkan PDS mampu meraih 14,8 persen suara dan Partai Demokrat 14,3 suara.
Meletusnya konflik di Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah, membuat sebagian masyarakat Sulut khawatir jika berimbas ke wilayahnya. Karena itu warga Sulut menginginkan calon presiden yang dapat memberikan rasa aman. Figur yang cocok untuk mewujudkan hal tersebut adalah mereka yang berlatar belakang milter. Lantaran itu, sosok Wiranto-Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sangat populer di provinsi ini.
Namun, pasangan Megawati-Hasyim juga harus diperhitungkan karena didukung PDS. Hasil sementara Komisi Pemilihan Umum menunjukkan pasangan Wiranto-Wahid masih memimpin disusul Mega-Hasyim dan Sby-Kalla. Kombinasi mayoritas Golkar dan latar belakang militer yang dianggap dapat memberi rasa aman bisa jadi yang membuat masyarakat Sulut memilih pasangan Wiranto-Wahid.
Meskipun Golkar masih mayoritas di provinsi ini pada pemilu legislatif dengan meraih 53 persen, kekuatan partai Islam di Provinsi Gorontalo patut diperhitungkan. Kemenangan Golkar ternyata diikuti dengan kemerosotan jumlah suaranya dibandingkan pemilu sebelumnya. Banyak para pemilih beralih ke partai-partai Islam seperti Partai Bulan Bintang yang meraih 5,3 persen dan Partai Keadilan Sejahtera tiga persen lebih.
Pengaruh partai berlambang pohon beringin yang masih sangat kuat ini ditambah dengan kekuatan Islam menjadikan pasangan Wiranto-Wahid dianggap paling ideal oleh masyarakat Gorontalo. Ini terbukti pada hasil sementara pemilu presiden di provinsi ini yang menempatkan pasangan Wiranto-Wahid di urutan teratas dengan suara 76,5 persen jauh di atas para pesaingnya.
Trauma masyarakat akibat konflik yang terjadi di provinsi Maluku Utara masih dirasakan oleh sebagian masyarakat. Karena itu figur presiden yang menjadi dambaan masyarakat Maluku Utara adalah yang bisa memberi rasa aman. Konflik juga menyebabkan kepercayaan terhadap partai yang berkuasa menurun. Pada Pemilu 1999 suara Golkar masih sekitar 42 persen, namun 2004 tinggal 23 persen.
Pertanyaannya, kemana suara Golkar? Semasa konflik beberapa waktu silam, PKS kerap memberikan bantuan sosial kepada masyarakat dengan mendirikan sejumlah pos koordinasi bantuan sehingga menaikkan citra partai. Sebagai partai baru, PKS mampu meraih 10,5 persen suara.
Figur presiden yang mampu memberi rasa aman adalah mereka yang berasal dari militer karenanya figur Wiranto dan SBY populer di masyarakat Maluku Utara. Hasil sementara suara pemilihan presiden menunjukkan pasangan Wiranto-Wahid disusul Sby-Kalla, masih di urutan teratas.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)