AS-Iran Akhiri Pembicaraan di Doha Tanpa Kesepakatan

Pertemuan antara delegasi AS-Iran tak menghasilkan kemajuan signifikan.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 02 Juli 2026, 09:34 WIB
Pejalan kaki melewati lukisan mural yang menggambarkan pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dan bendera nasional di sepanjang dinding bekas Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Ibu Kota Teheran, Iran, Sabtu (22/6/2019). (ATTA KENARE/AFP)

Liputan6.com, Doha - Iran dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri putaran pembicaraan tidak langsung di Doha, Qatar, pada Rabu (2/7), tanpa menghasilkan kemajuan berarti menuju penyelesaian konflik secara menyeluruh. Pertemuan selama dua hari itu justru berfokus pada implementasi kesepakatan awal yang telah dicapai pada Juni lalu, sementara isu utama terkait program nuklir Iran belum dibahas.

Berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan, delegasi kedua negara lebih banyak membahas pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta insentif ekonomi bagi Iran. Kedua isu tersebut merupakan bagian dari perjanjian awal yang telah disepakati sebelumnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis terhadap perkembangan hubungan dengan Iran. Menurut dia, proses menuju pembatasan program nuklir Teheran berjalan ke arah yang positif.

"Denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah mengadakan pertemuan yang sangat baik, dan kita akan lihat," kata Trump kepada wartawan di Washington.

Namun, sumber yang mengetahui isi pembicaraan mengatakan persoalan nuklir sama sekali tidak menjadi agenda dalam pertemuan di Doha karena perundingan kali ini bersifat teknis.

Wakil Presiden AS JD Vance mengakui isu nuklir baru akan dibahas pada tahap berikutnya.

"Jelas kami khawatir mengenai masalah nuklir, dan kami akan mulai membicarakannya," ujar Vance.

Selama perundingan berlangsung, delegasi Iran dan AS tidak melakukan pertemuan langsung. Komunikasi dilakukan melalui mediator dari Qatar dan Pakistan.

Menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, utusan khusus AS Steve Witkoff maupun Jared Kushner, menantu Presiden Trump, tidak menghadiri pertemuan tersebut meski sebelumnya disebut Gedung Putih akan terlibat dalam pembicaraan tingkat tinggi.

Delegasi Iran dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Ia memastikan pembicaraan telah selesai, tetapi tidak memberikan penjelasan mengenai hasil yang dicapai. Hingga perundingan berakhir, kedua pihak juga belum mengumumkan adanya kesepakatan baru.

Selat Hormuz Masih Jadi SorotanSalah satu pembahasan utama dalam perundingan adalah implementasi kesepakatan mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Meski aktivitas pelayaran mulai kembali berlangsung setelah konflik mereda, status keamanan jalur tersebut masih menjadi perhatian. Ketegangan kembali meningkat setelah terjadinya serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo pada akhir pekan lalu yang kemudian dibalas oleh AS.

Dua sumber senior Iran mengatakan Teheran tetap berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz. Iran juga berencana memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus, setelah masa pembebasan biaya sebagaimana diatur dalam kesepakatan awal berakhir.

 

Skala Perang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Meski demikian, Trump menilai peluang kembali pecahnya perang skala penuh relatif kecil.

"Saya pikir mereka telah menempuh perjalanan yang panjang," ujarnya.

Pernyataan Trump turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam empat bulan, sementara sejumlah analis merevisi turun proyeksi harga minyak untuk pertama kalinya sejak konflik pecah.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing kandas di perairan dangkal di luar jalur pelayaran resmi yang ditetapkan otoritas Iran.

Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, menilai kondisi di Selat Hormuz memang mulai membaik, tetapi belum sepenuhnya stabil.

"Hormuz terus dibuka kembali, tetapi tidak merata, tidak dapat diprediksi, dan tidak sepenuhnya transparan," katanya.

Sementara itu, beberapa negara Eropa telah menawarkan bantuan untuk operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Namun, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyatakan negaranya tidak berencana ikut berpartisipasi karena menilai Iran belum menunjukkan kesiapan untuk bekerja sama dengan negara lain.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya