Liputan6.com, Jakarta - Industri otomotif nasional diperkirakan masih menghadapi tekanan pada semester II/2026 seiring daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat para pelaku industri, termasuk Mazda Indonesia, harus menyiapkan strategi adaptif agar tetap mampu menjaga kinerja penjualan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Meski demikian, peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama dengan hadirnya momentum pameran otomotif terbesar di Indonesia, GIIAS 2026, yang akan digelar pada 29 Juli hingga 9 Agustus 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.
Advertisement
Sejumlah pelaku industri menilai bahwa pasar otomotif Indonesia masih berada dalam fase penyesuaian. Tekanan ekonomi, perubahan pola konsumsi, hingga selektivitas pembelian konsumen menjadi faktor yang memengaruhi performa penjualan sepanjang 2026.
Kondisi tersebut juga tercermin dari kompetisi yang semakin agresif antar merek, terutama dalam menawarkan program promosi, pembiayaan, hingga peluncuran model baru untuk menarik minat konsumen.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia Ricky Thio menegaskan bahwa sepanjang enam bulan pertama 2026, seluruh pelaku industri otomotif berupaya mempertahankan pangsa pasar dengan berbagai pendekatan, termasuk strategi promosi yang semakin agresif.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan ketatnya persaingan di industri otomotif nasional saat ini, dan dinamika serupa masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.
“Untuk semester II, saya sendiri juga masih melihat situasinya cukup dinamis. Kondisinya memang masih penuh tantangan. Namun, kami tetap optimistis, apalagi akan ada GIIAS dan berbagai program baru yang kami siapkan,” ujar Ricky Thio di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, penjualan ritel Mazda sepanjang Januari–Mei 2026 tercatat mencapai 1.240 unit.
Angka tersebut turun 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1.315 unit.
Penurunan ini menjadi salah satu indikator bahwa pasar otomotif masih berada dalam fase penyesuaian, di tengah tekanan ekonomi serta perubahan preferensi konsumen yang semakin dinamis.
Untuk mendorong performa penjualan pada semester II/2026, Mazda Indonesia menyiapkan strategi peluncuran model baru.
Salah satu yang paling disorot adalah kehadiran kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
GIIAS 2026 Jadi Momentum
Momentum peluncuran tersebut diharapkan mampu mendapatkan perhatian besar di ajang GIIAS 2026, yang selama ini menjadi panggung utama industri otomotif untuk memperkenalkan inovasi terbaru kepada publik.
Salah satu model yang akan diperkenalkan adalah Mazda EZ-6, yang juga dikenal sebagai Mazda 6e di beberapa pasar. Mobil listrik ini merupakan hasil kerja sama dengan Changan Automobile.
Ricky Thio yang juga menjabat Presiden Direktur Mazda Indonesia menegaskan bahwa produk tersebut akan segera diperkenalkan ke pasar Tanah Air.
“Kita akan membawa EV yang dirakit Changan, itu betul. Memang kita akan segera masukkan yang itu,” ujarnya.
Kehadiran model elektrifikasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan Mazda di tengah tren kendaraan listrik yang mulai menunjukkan peningkatan minat di pasar Indonesia.
Meski tekanan pasar diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026, Mazda Indonesia tetap menilai bahwa peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen kendaraan elektrifikasi.
Kombinasi strategi peluncuran produk baru dan pemanfaatan momentum pameran otomotif seperti GIIAS 2026 menjadi kunci bagi Mazda untuk menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.
Dengan dinamika industri yang terus berubah, tahun 2026 diprediksi menjadi periode penting bagi pabrikan otomotif untuk memperkuat posisi sekaligus beradaptasi dengan arah baru industri menuju elektrifikasi.