Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$ 60.000 pada perdagangan Rabu kemarin setelah pasar merespons pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengenai perkembangan inflasi di Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, para pelaku pasar menilai pemulihan Bitcoin masih menghadapi berbagai tantangan. Selain tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga, arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot juga masih membatasi ruang penguatan aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Advertisement
Dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (2/7/2026), sentimen positif sempat muncul setelah Warsh menyampaikan bahwa risiko inflasi mulai mereda. Kondisi ini sempat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Namun di sisi lain, pasar juga memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Situasi tersebut membuat instrumen investasi berbunga seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti Bitcoin maupun emas.
Sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor saat ini antara lain:
- Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot masih berlanjut sehingga mengurangi peluang Bitcoin naik cepat menuju US$ 65.000.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat membuat investor lebih memilih instrumen pendapatan tetap.
- Penguatan dolar AS turut menekan daya tarik aset berisiko.
- Optimisme terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) masih menopang minat terhadap aset berisiko, meski sektor semikonduktor mulai menunjukkan pelemahan.
Imbal Hasil Obligasi Naik, Tekan Daya Tarik Bitcoin
Setelah komentar Warsh, harga Bitcoin memang sempat menguat. Namun, kondisi pasar secara keseluruhan masih belum sepenuhnya mendukung.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun naik menjadi 4,22%. Kenaikan ini menunjukkan investor meminta kompensasi yang lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah.
Bagi Bitcoin, kondisi tersebut menjadi tantangan karena obligasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi menawarkan alternatif investasi yang lebih menarik dibandingkan aset yang tidak menghasilkan bunga atau dividen.
Di saat yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Pelaku pasar juga masih menunggu arah kebijakan moneter The Fed seiring perkembangan inflasi.
Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, kontrak berjangka obligasi pemerintah AS kini mencerminkan peluang sekitar 64% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September mendatang. Sebulan sebelumnya, probabilitas tersebut masih berada di kisaran 23%.
Selain itu, dolar AS juga menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan terhadap aset yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk emas dan Bitcoin.
Dalam dua bulan terakhir, harga emas bahkan tercatat turun sekitar 12%, sementara indeks dolar AS (DXY) terus menguat.
Arus Keluar ETF Masih Menjadi Beban
Meski Bitcoin berhasil kembali menembus level US$ 60.000, analis menilai kenaikan tersebut belum cukup mengubah sentimen pasar secara keseluruhan.
Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot yang diperdagangkan di Amerika Serikat masih terus berlangsung. Kondisi ini membuat tekanan jual tetap mendominasi sehingga membatasi peluang reli lebih besar.
Data SoSoValue menunjukkan arus dana bersih harian ETF Bitcoin masih berada dalam tekanan. Situasi tersebut membuat kabar negatif lebih mudah memicu aksi jual dibandingkan kabar positif yang mampu menarik investor baru.
Bitcoin juga masih diperdagangkan sekitar 53% di bawah rekor harga tertinggi sepanjang masa (all-time high). Hal ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap kekuatan level psikologis US$ 60.000 sebagai area penopang harga.
Sektor AI Masih Menopang Sentimen Pasar
Di tengah tekanan tersebut, sebagian investor masih optimistis karena pasar saham, khususnya sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), masih menunjukkan performa positif.
Indeks Nasdaq 100 tercatat naik sekitar 25%, didorong kinerja perusahaan-perusahaan AI yang masih solid.
Kondisi tersebut biasanya ikut mendukung aset berisiko seperti Bitcoin karena investor lebih berani mengambil eksposur terhadap instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Namun, optimisme tersebut mulai mendapat tantangan setelah saham Micron Technology dan SanDisk terkoreksi tajam menyusul pengumuman ekspansi kapasitas produksi oleh SK Hynix dan Samsung. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya pasokan dan tekanan terhadap harga produk semikonduktor.
Meski demikian, iShares SOX Semiconductor ETF (SOXX) masih mencatat kenaikan signifikan dalam tiga bulan terakhir. Artinya, pelemahan yang terjadi saat ini masih dianggap bersifat sektoral dan belum mencerminkan pelemahan industri semikonduktor secara keseluruhan.
Mampukah Bitcoin Tembus US$ 65.000?
Analis menilai tantangan terbesar Bitcoin bukan sekadar kembali naik, melainkan mampu mempertahankan penguatan secara berkelanjutan.
Kenaikan harga yang dipicu komentar Kevin Warsh dinilai belum cukup apabila ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi dan investasi di instrumen pendapatan tetap semakin menarik.
Karena itu, level US$ 65.000 dinilai masih sulit dicapai dalam waktu dekat. Bitcoin membutuhkan perubahan yang lebih signifikan, baik dari sisi membaiknya arus dana ETF Bitcoin spot maupun meredanya tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS.
Ke depan, investor diperkirakan akan mencermati dua indikator utama, yakni perkembangan arus dana ETF Bitcoin spot serta arah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS.
Apabila tekanan dari kedua faktor tersebut mulai mereda, peluang Bitcoin melanjutkan penguatan akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika imbal hasil obligasi dan dolar AS tetap tinggi, reli Bitcoin diperkirakan masih rentan mengalami koreksi.