Liputan6.com, Jakarta - Korporasi Indonesia menghadapi peningkatan risiko dari makroekonomi yang menantang dan meningkatnya ketidakpastian regulasi.
Hal itu berdasarkan laporan Fitch Ratings yang dikutip dari fitchratings.com, ditulis Rabu, (1/7/2026).
Advertisement
Namun, sebagian besar korporasi Indonesia yang diberi peringkat Fitch memiliki ruang gerak memadai pada profil kredit saat ini.
Fitch menyebutkan, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi, kenaikan suku bunga, dan depresiasi rupiah meningkatkan risiko permintaan untuk sektor konsumen. Sektor itu bergantung pada pengeluaran diskresioner dan pembiayaan kredit seperti otomotif dan properti.
Selain itu, depresiasi mata uang yang terus menerus dapat menekan margin emiten yang bergantung pada impor dengan kemampuan biaya yang terbatas. Kemudian suku bunga tinggi akan meningkatkan biaya, dan membatasi fleksibilitas bagi emiten yang lebih banyak memakai leverage atau utang.
“Kami memperkirakan regulasi yang terus berkembang akan terus menjadi risiko bagi korporasi di sektor strategis, seperti sumber daya alam,” demikian seperti dikutip dari laman Fitch.
Fitch memperkirakan emiten dengan kekuatan penetapan harga yang kuat, permintaan defensif, diversifikasi pendapatan atau geografis, dan struktur modal yang konservatif akan lebih mampu menghadapi tantangan tersebut.
Penutupan IHSG pada 1 Juli 2026
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham Rabu, (1/7/2026). IHSG hari ini menguat di tengah mayoritas sektor saham menghijau dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di 17.933.
Mengutip data RTI, IHSG ditutup naik 0,92% menjadi 5.695,11. Indeks saham LQ45 mendaki 0,66% menjadi 556,74. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.
Pada perdagangan Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.737,73 dan terendah 5.607,45. Sebanyak 378 saham menguat sehingga angkat IHSG. 248 saham melemah dan 157 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 1.566.407 kali dengan volume perdagangan saham 18,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.933.
Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham energi dan basic masing-masing naik 2,61% dan 2,60%. Selain itu, sektor saham infrastruktur melompat 1,38%, sektor saham industri bertambah 0,30%, sektor saham consumer siklikal mendaki 0,82%. Kemudian sektor saham kesehatan menanjak 0,36%, sektor saham teknologi bertambah 0,62%. Sementara itu, sektor saham transportasi tergelincir 0,91%, sektor saham properti susut 0,05%, sektor saham keuangan dan sektor saham consumer nonsiklikal masing-masing susut 0,38%.
Pada perdagangan Rabu pekan ini, saham INDY turun 1,1% menjadi Rp 1.800 per saham. Harga saham INDY dibuka naik 10 poin menjadi Rp 1.830 per saham. Saham INDY berada di level tertinggi Rp 1.870 dan terendah Rp 1.770 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.346 kali dengan volume perdagangan saham 121.622 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,2 miliar.