British American Tobacco Bakal Kurangi 5.500 Karyawan Global

Langkah PHK terhadap karyawan global seiring British American Tobacco (BAT) akan hemat biaya Rp 14,19 triliun.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Juni 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK/Photo by James Yarema on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - British American Tobacco (BAT) mengurangi karyawan sekitar 5.500 dari jumlah karyawan di dunia yang mencapai 47.000 orang. Langkah ini sebagai bagian rencana besar untuk memangkas biaya dan menyederhanakan operasional.

Mengutip the Strait Times, Senin, (29/6/2026), pada akhir 2026, British American Tobacco akan memangkas 5.500 pekerjaan dan melakukan outsourcing terhadap 3.500 pekerjaan lainnya. Hal itu menurut pemberitahuan internal yang mengungkap skala perubahan yang terjadi di perusahaan raksasa tembakau itu.

BAT telah menggandeng Accenture untuk melakukan outsourcing sejumlah fungsi, termasuk pusat layanan, yang biasanya mempekerjakan sebagian besar tenaga kerja perusahaan secara keseluruhan. BAT mengumumkan, beberapa peran di Inggris, Singapura, Kosta Rika, Meksiko, Polandia, Rumania, dan Malaysia telah dipindahkan ke Accenture.

Sementara itu, beberapa peran di Pakistan telah di-outsourcing ke Systems Ltd, perusahaan teknologi dan bisnis Pakistan.

Berdasarkan laporan Bloomberg, hal itu tidak termasuk bisnis BAT di Amerika Serikat, yang dioperasikan melalui anak perusahaannya, Reynolds American.

Sebagian besar negara lain tempat BAT beroperasi terpengaruh oleh program restrukturisasi yang sedang berlangsung ini. Perseroan telah janji untuk menghemat biaya tahunan 600 juta poundsterling atau Rp 14,19 triliun (asumsi kurs poundsterling terhadap rupiah di 23.660) pada akhir 2028.

BAT menghadapi penurunan permintaan rokok tradisional di banyak pasar dan kebutuhan untuk berinvestasi dan mengembangkan alternatif nikotin yang lebih berkelanjutan, yang popularitasnya meningkat pesat. Hal ini karena orang mencari cara untuk berhenti merokok. Adapun BAT ingin menghasilkan lebih dari setengah pendapatannya dari produk "bebas asap" seperti vape Vuse dan Velo.

 

Restrukturisasi BAT

Ilustrasi rokok. (Image by Freepik)

Sebagian dari restrukturisasi BAT melibatkan penutupan pabrik rokok tradisional. Pada Januari, perusahaan mengatakan akan menutup pabrik rokok terbesar ke-8, yang terletak di Afrika Selatan, karena persaingan dari perdagangan ilegal. Pada awal 2026, BAT memperkirakan penurunan volume industri rokok global sebesar 2 persen pada 2026.

Interim Chief Financial Officer, Javed Iqbal, mengatakan pada Februari, penggunaan kecerdasan buatan dan alat analisis data juga akan memengaruhi tingkat kepegawaian. Sebagian besar penghematan biaya yang direncanakan BAT, sekitar 500 juta poundsterling atau Rp 11,83 triliun, akan terealisasi pada 2027.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya